5 Tahun Paspor Pertama

Ketika menulis ini, saya baru saja kembali dari Kantor Imigrasi Jakarta Selatan untuk memperpanjang paspor yang ternyata sudah habis masa berlakunya semenjak bulan Agustus kemarin. Ternyata sudah dari tahun 2014 saya bikin paspor, waktu itu bikin dengan tidak bertujuan apa-apa, tidak sedang merencanakan perjalanan ke luar negri. “Ah, bikin saja dulu, barangkali nanti butuh” pikir saya waktu itu.

Dengan tanpa riset yang banyak sebelumnya, saya langsung mengajukan pembuatan paspor online, mengunggah data-data, lalu membayar biayanya. Baru sadar kemudian menjelang hari wawancara ternyata saya salah memilih Kantor Imigrasi. Alih-alih ke Kanim Kelas I Khusus Jakarta Selatan di daerah Warung Buncit yang dekat dengan kantor, malah memilih Kanim Wilayah I Jakarta Selatan di Pondok Pinang. Anjir jauh pisan atuh, mana waktu itu belum mengenal Ojek Online. Pagi-pagi banget naik Trans Jakarta dilanjut angkot, sampai di kantornya udah ngantri panjang karena belum ada sistem antrian online.   Saya ingat waktu itu ngantrinya sampai ke luar, dan tag tempat antriannya ada yang pake sepatu, ikat pinggang, map, dan barang-barang pribadi lainnya, orang-orangnya mah berteduh di bawah pohon pinggir jalan. Yah mau-tak mau saya ikuti saja semua prosesnya, sudah kadung perjalanan jauh. Setelah beres, karena takut balik kantor telat, saya memutuskan pake taksi, ongkosna astagfirulloh mahal pisan. Itu adalah tahun pertama saya tinggal di Jakarta dan kali pertama saya menggunakan taksi sendirian. Yah pokoknya mah jadinya keisengan membuat paspor ini mengeluarkan budget yang lumayan.

Perlu waktu sampai 3 tahun kemudian sampai akhirnya itu paspor terpakai juga. Negara luar pertama yang saya datangi adalah Vietnam, tapi karena transit di Kuala Lumpur, cap imigrasi pertamanya dapat dari Malaysia. Untuk mengenang habisnya masa jasa paspor pertama saya itu, berikut mau saya share foto di beberapa negara yang berhasil dikunjungi ya. Punten ya kebanyakan akan selfie ini mah nih. 😀

Sekadar Transit di Malaysia

Nggak sampai keluar area bandara nya, tapi tetap takjub melihat design KLIA 2 yang bagus. Banyak lampu led berwarna pink, biru, hijau gitu lah ala cyberpunk. 😀

Negara pertama yang dikunjungi: Vietnam!

Ini perjalanan pertama saya dan Amy sebagai suami istri. Dengan budget pas-pasan nekat aja ke negara yang belum pernah dikunjungi. Untungnya Amy udah ada pengalaman sebelumnya ke luar negri, bisa agak ngasih tahu saya yang awam banget ini buat ngelewatin gerbang imigrasi. 😀

Lanjut Perjalanan Darat ke Kamboja!

Dengan menggunakan bus dari Ho Chi Minh ke Phnom Penh, kami cross border perbatasan Vietnam Kamboja di daerah Moc Bai – Bavet. Seru lah melihat pemandangan yang tiba-tiba jadi beda suasananya pas masuk daerah Kamboja. 😀

Masih di Kamboja tapi ke Siem Reap seru pakai Sleeper Bus

Walaupun masih dalam Kawasan Kamboja, tapi dari Phnom Penh menuju Siem Reap ini perjalananya hampir sama kayak ke Ho Chi Minh. Untuk pakai sleeper bus, jadi sepanjang jalan kami terlelap. Tiba-tiba nyampai aja suatu subuh di sebuah pasar yang sedang mati lampu. Gelap gulita cuy! 😀

Cross Border lagi, sekarang ke Thailand!

Cross border kali ini agak lebih melelahkan karena di perbatasan Kamboja-Thailand, tepatnya di daerah Poipet – Aranyaprathet, kantor imigrasi kedua negara berjauhan, dan kami harus turun dulu dari bus. Jalan kaki melewati pasar yang cukup ramai, dengan banyak ulasan bahwa di sana banyak terjadi scamming membuat kami nggak sempat foto-foto, fokus waspada. Hahahaha. Tapi seru ini bahasnya di tulisan terpisah deh!

Kali ini perjalanan dibayarin kantor: ke Perancis!

Mimpi jadi nyata tea atuh ini mah, nih cerita lengkapnya saya tulis di postingan yang ini: Naar de Europa Land.

Seminggu di Spanyol.   

Selama training di Spanyol, sempat pindah-pindah kota dari Madrid, Malaga, Cordoba, lalu ke Barcelona. Seru tapi Lelah, Lelah menahan rindu LDM.

Berakhir di Yunani!

Negara terakhir yang dikunjungi adalah Yunani, berasa surreal sih bisa mengunjungi negara ini. Gimana ya? Mungkin karena banyak bangunan tua yang saya yakin punya nilai sejarah yang panjang terus bersanding dengan kehidupan modern saat ini. Ingin ke sana lagi sih dengan lebih well prepared, baca-baca dulu sejarah peradaban Yunani, lalu merasakan atmosfirnya lagi di sana.

Faktanya hari ini saya memperpanjang lagi paspor untuk 5 tahun ke depan dengan kondisi hampir sama seperti 5 tahun yang lalu: tidak sedang merencanakan perjalanan ke luar negeri. Saya perpanjang saja agar suatu saat ada rezeki berangkat, paspor sudah siap. Apalagi paspor istri dan anak saya aktif, masa saya doang yang sudah expired. Gak mau kalah ah. 😀

***

Fun fact:
– Sepanjang periode paspor pertama dari tahun 2014 – 2019, perjalanan ke luar negeri saya hanya terjadi di tahun 2017.
– Memperpanjang paspor sekarang sudah jauh lebih gampang dibanding saat saya pertama bikin 5 tahun lalu.
– Negara yang belum sempat kesebut di atas, tapi sempat saya hampiri bandaranya untuk sekadar transit: Qatar!

Nama yang Cukup Baik Bagi Kami

Ada banyak cara dan aturan dalam memberi nama untuk anak, salah satu yang bisa kita amati adalah aturan pemberian akhiran -son dan -dottir di Islandia. Juga ada banyak selera dan sudut pandang dalam memberi makna penamaannya, semisal nama “Buruk” di Turki, yang tentu saja kita tahu artinya seperti apa bila diterapkan dalam konteks Bahasa Indonesia. Dan jangan lupakan juga ada banyak tradisi pemberian nama keluarga atau marga di Indonesia. Belum lagi bila kita mempertimbangkan pengaruh tren, entah itu efek sebuah tokoh, musik, atau budaya yang sedang terkenal saat itu. Keluarga saya dan Amy kebetulan tidak terikat pada satu aturan mana pun untuk pemberian nama anak. Itu membuat kemungkinan nama yang bisa dipilih begitu luas. Namun pada akhirnya saya memilih untuk memberi nama putri pertama kami dengan sebuah pilihan yang bisa melibatkan saya dan Amy, semacam penyatuan ide dua kepala, yang pada akhirnya merujuk pada satu nama yang dipilih: Dhya.

___

Saya memacu motor Yamaha Mio yang mesinnya sudah sering batuk-batuk di tanjakan jalan penghubung antara Hegarmanah dan Ciumbuleuit. Malam itu saya hendak menyaksikan penampilan Abah Iwan Abdulrachman di sebuah acara diskusi musik di Kiputih Satu. Sudah sejak lama saya ingin menyaksikan penampilan langsung Abah Iwan, sejak suara lirih anggota Wanadri senior ini tiba-tiba membuat saya merinding di suatu sore di Kineruku. Saat itu, diri sedang asyik tenggelam dalam sebuah buku, lalu seketika lagu Mentari mengalun menyelinap di sela-sela rak buku, menyelubungi CD dan kaset yang tertata, sampai akhirnya memenuhi udara. Tidak bisa tidak, saya tertegun lantas beranjak ke meja kasir, tempat lagu itu diputar, lalu bertanya kepada Mbak Sur yang sedang bertugas di sana, membunuh rasa penasaran pada lagu yang menghipnotis ini. Itulah pertama kali saya merasakan Mentari berdesir hingga ke urat darah.

Acaranya dimulai pukul 19:30 dan saya sudah siap di lokasi setengah jam sebelumnya. Panggung masih kosong, para tamu dan pengisi acara masih asik berbincang di taman. Saya memberi kabar ke Amy dan orang rumah karena akan pulang larut, memcoba memberi maklum pada mereka untuk menahan rasa rindunya karena saya mau fokus nonton Abah Iwan. Setelah menghabiskan secangkir teh panas yang cepat dingin–udara Bandung malam itu sungguhlah bikin ngadegdeg–saya beranjak ke tempat penonton. Saya memilih jajaran kursi ke dua dari depan, di sebelah sudah ada satu keluarga yang ternyata anak dan cucu Abah Iwan. Seru sekali nonton musik sekeluarga, pikir saya. Tidak lama dari itu acara yang dimoderatori oleh Herry “Ucok” Sutresna dan Budi Warsito ini pun dimulai.

Petikan gitar dan suara lirih Abah Iwan mengalun sepanjang malam. Seringkali Ia berhenti di tengah lagu untuk kemudian bercerita tentang kisah di balik lagu atau pengalaman hidupnya sebagai seorang petualang. Saya seperti seorang cucu yang sedang mendengar kakeknya berkisah sambil sesekali bernyanyi. Sungguh sebuah penampilan yang berkenang bagi saya, terutama ketika ahirnya beliau membawakan lagu Mentari, bulu kuduk saya merinding merasakan rambatan energinya. Abah Iwan bercerita tentang kisah lagu ini, suatu waktu ada seorang mahasiswa bertanya tentang kata mana yang benar di lirik lagu Mentari, apakah Bernyala atau Menyala? Abah Iwan menjawab bahwa kata yang ia gunakan ketika menciptakan lagu itu adalah Bernyala. “Bernyala itu seperti lebih kuat dibandingkan Menyala. Bernyala itu lebih berkesan hasil dari usaha dari dalam diri sendiri. Mentari Bernyala di sini, di dalam hatiku” tutur Abah Iwan. Dan bagi saya memang betul begitu terasa efek dari pilihan kata di lagu tersebut. Menghadirkan sebuah kesadaran untuk melakukan sesuatu yang berasal dari dalam diri kita sendiri, locus of control internal.

Abah Iwan mengakhiri penampilannya selepas tengah malam. Tak terasa bagi saya bahwa batas pergantian hari telah terlewati. Saya kembali memacu Yamaha Mio yang sudah terbatuk-batuk itu untuk kembali ke rumah, menembus dinginnya jalanan Ciumbuleuit hingga ke Ledeng. Namun, rasanya hal tersebut tak terlalu mengganggu lagi karena sinar mentari telah bernyala di hati saya, efek dari menyaksikan Abah Iwan bernyanyi yang langsung saya tasbihkan sebagai konser musik terbaik dari sedikit konser musik yang pernah saya tonton.

___

Beberapa tahun setelah malam itu, saya membonceng Amy di atas sepeda motor, menyusuri jalanan kota Depok yang tidak seadem Bandung. Kami berdiskusi tentang apa nama yang akan kami sematkan pada calon bayi yang sedang tumbuh di kandungan ini. Sebelumnya, berdasarkan pengamatan lewat USG, bayi yang lahir  diprediksi akan berkelamin laki-laki namun direvisi di kontrol bulan berikutnya. Saya yang sudah terpikir nama-nama untuk bayi laki-laki harus berpikir ulang menemukan nama bayi perempuan. Sempat terpikir nama “Seine”, terinspirasi dari sungai cantik yang membelah kota Paris. Nama “Minar” juga sempat masuk dalam daftar pilihan, diambil dari kata Minaret/Alminar, kata yang merujuk pada sebuah Menara di masjid Cordova. Namun kedua opsi nama tersebut kurang melibatkan Amy di dalamnya, hanya berdasar pada pengalaman saya sendiri. Sempat terpikir mengambil nama dari apa yang ada di perjalanan kami berdua saat travelling ke Vietnam-Kamboja-Thailand, namun belum ada yang begitu lekat.

“Kamu coba cari tahu arti kata Dhya, deh” ujar Amy dari belakang pundak saya. “Kalau gak salah, bagus artinya. Sesuai juga dengan yang dimau: dua suku kata.” Lanjutnya sambil menegaskan bahwa ia memang ingin memberi nama awal yang terdiri dari dua suku kata. Tujuannya lebih ingin sederhana, mudah memanggilnya, seperti nama Budi atau Rani. Kira-kira seperti itu lah.

Kucari kemudian bahwa nama Dhya bisa diambil dari Bahasa Arab “ضياء (dhiya’)” yang berarti sinar, sesuatu yang dipancarkan. Dalam Surat Yunus ayat 5, kata dhiya’ ditempatkan satu kalimat dengan kata nur yang punya arti serupa: cahaya. Perbedaannya apabila dhiya’ digunakan untuk menerangkan sinar matahari yang bersumber dari dirinya sendiri. Sementara itu, nur digunakan untuk menerangkan cahaya bulan, yang merupakan pantulan dari sinar matahari.

Ketika menemukan pengertian itu, saya langsung teringat pada malam saat saya menonton Abah Iwan tatkala menemukan pengertian Bernyala. Sejenak kemudian saya tersenyum dan bahwa ide nama dari Amy ini adalah gambaran dari salah satu pengalaman yang penting dalam hidup saya. Maka saya tak ragu lagi untuk menyematkan Dhya di nama sang bayi. Untuk memastikan arti nama Dhya tidak mengandung unsur buruk dalam Bahasa lain, saya cari di Google, dan hasil paling atas bahwa Dhya dalam literatur Hindi bisa berarti sebuah pemikiran, kontemplasi, meditasi. Jelas bukan sesuatu yang buruk bagi kami.

Saya menikmati dan merasa puas atas proses penemuan nama untuk anak ini karena melibatkan kolaborasi dan diskusi antara saya dan Amy, sampai kami menemukan sebuah ketetapan. Nama Dhya kami gunakan dengan pengucapan “diya”, namun ditulis menggunakan “dh” sesuai transliterasi huruf ض ke huruf latin.

Pada akhirnya, Dhya adalah nama yang cukup baik bagi kami. Semoga kelak, makna bisa tumbuh dan bernyala satu-satu dari pengetahuannya. Dari seluruh pandangan, pendengaran, serta penglihatannya.

***

Post Scriptum: Dalam penyebutan nama anak kami di tulisan blog atau media sosial, saya sering menggunakan nama Pepiw, bahkan menyebut nama lengkapnya sebagai Dhya De Pepiw. Pepiw sendiri merupakan nama panggilan kami saat Dhya masih berupa janin di dalam perut. Diambil dari Bahasa kucing yang diciptakan oleh Amy dan adik-adiknya yang artinya baby. Jadi Dhya De Pepiw berarti Dhya The Baby. 😀

Mengecup rasa Locupan

Pagi belum lagi sempurna. Sedikit demi sedikit langit menyingkab kegelapan dirinya untuk menampilkan pesona yang lebih terang di atas Kota Bandar Lampung. Atau dalam kata lain yang lebih sederhana, ini teh wanci carangcang tihang. Saat itu hari Sabtu, belum sempat diri ini mengentaskan rasa kantuk setelah 9 jam perjalanan dengan Damri dan kapal, Amy mengajak cari sarapan di luar.

Adalah Mie Sukarame yang menjadi tujuan. Walau namanya Mie, namun khabar yang beredar di masyarakat, di sana justru locupannya yang enak.
Lagian makan mie pagi-pagi adalah sebuah konsep yang asing bagi kami. Terlebih, saya belum pernah mencoba makanan bernama locupan ini sebelumnya. Berada di dalam komplek perumahan Bukit Kencana, warung depan rumah yang dijalankan oleh pasangan koko-cici ini mulai beroperasi dari jam 6 pagi. Sudah mulai ramai pengunjung ketika kami tiba di sana. Dari plangnya mereka beroperasi sampai jam 1 siang, tapi kalau udah habis duluan ya mereka langsung tutup sebelum jam itu. Begitu kata si koko yang lagi mengomandoi anak buahnya buat motong bawang dan masang spanduk.

Kami pesan dua porsi locupan yang tiap porsinya ditemani dengan semangkok pangsit rebus dan lobak putih. Saya menyeruput kuahnya, dan euummhhh, segaaar. Membuat rasa kantuk ini masih tetap ada sih da ga bisa dibohongi, namun kesegaran kaldu ayam bening ini cukup menghentak. Kaget saya, ini kaldu tampilannya bening aja biasa polos, tapi rasanya menggugah. Hasil olahan ceker ayam kampung ini memang sungguhlah magis.
Saya coba locupannya yang gemuk dan kenyal. Dua tiga kali sumpitan udah membuat saya cukup kenyang. Maklum, saya gak pernah sarapan banyak-banyak.Eh ini langsung disuguhi olahan tepung beras yang kaya akan karbohidrat, kalsium, dan fosfor.
Lidah saya juga terhibur oleh hadirnya tumis ayam cincang yang berpadu padan dengan potongan daun bawang, cincang bawang putih goreng yang mana sukses menjalankan fungsinya sebagai topping yang lezat.

Jangan berpuas sampai di situ, karena pangsit rebus dan potongan lobak putih yang tergenang dalam kaldu adalah sesuatu yang tidak sampai hati kamu lewatkan walau perut sudah mulai kenyang.

Begitulah kisah saya bertemu dengan locupan yang lezat ini. Selalu bahagia apabila bertemu makanan yang lezat. Memang betul hidup ini penuh dengan hal yang bikin pusing. Tapi itu ada makanan yang lebih menarik untuk kita syukuri. Sebuah hasil dari cipta, rasa, dan karsa.

Wabillahitaufik walhidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

#INFO_TKP
Nama Tempat: Mie Sukarame
Alamat: Perumahan Bukit Kencana, Blok BB No, RW.6, Kalibalau Kencana, Kec. Sukabumi, Kota Bandar Lampung, Lampung 35122
(Setelah lapangan tenis, lurus terus. Di Gang ke-4 belok kiri. Warungnya ada di ujung.)
Koordinat: Google Maps
Harga: 24K/Porsi

Permata yang Tersembunyi dari Google Maps

Tidaklah elok suatu kota bila tidak menawarkan sesuatu yang enak untuk dicicipi. Di beberapa artikel daring, Surabi Gapura Kang Dyan harus kita coba kala berada di Purwakarta, dan saya orang yang mudah tergoda bila itu menyangkut surabi. Maka berangkatlah kami ke sana tepat setelah waktu magrib, waktu terbaik ke tiga untuk menikmati surabi setelah pagi-pagi saat tetangga menyetel lagu Doel Sumbang keras-keras, dan saat hujan turun sementara kau lagi bosan dengan Indomie.

Tak disangka bahwasanya Purwakarta menghadirkan macet yang cukup panjang, kami rasa ini dampak dari paket kombo malam minggu dan libur akhir tahun. Ketika kami sampai di titik tempat Surabi Gapura ditunjuk keberadaanya oleh Google Maps, kami kembali tak menyangka bahwa tak ada apa-apa di sana kecuali sebuah papan kayu  bertuliskan Surabi Gapura dan menunjuk ke arah kegelapan, benar-benar jalan yang gelap. Jauh di luar imaji tentang warung makan yang ramai dikunjungi dan dipenuhi muda-mudi yang kongkow di malam minggu. Transisi dari riuh kemacetan pada sunyinya jalan kecil yang dihiasi pemandangan bangunan kosong dengan atap rusak dan rumput liar yang menjalar di sana-sini cukup membuat kami ciut dan menghapus bayangan surabi lezat. Bahkan Amy merajuk untuk kembali pulang saja, terlebih kami membawa Pepiw di pangkuan.

Saat malam hari tiba, jalanan ini lebih menarik untuk tim Jurnalrisa dibanding pembeli surabi.

Namun secercah cahaya lampu neon di ujung jalan sedikit memberi harapan, di sana kembali ada papan kecil bertuliskan “Surabi Gapura” dan tanda panah menuju ke sebuah jembatan kayu dan gang kecil. Kami melanjutkan perjalanan dengan bayangan bahwa di balik gang itu pasti lah ada keramaian muda-mudi mengantri Surabi disajikan hangat-hangat. 

Bisa lihat papan kecil yang memberi secercah harapan di malam hari?

Namun bayangan hanya tinggal bayangan kala mendapati realita bahwa tidak ada keramaian di balik gang. Surabi Gapura Kang Dyan ternyata berwujud warung sederhana di teras rumah dengan tambahan sebuah saung-saungan kecil yang menempel pada tembok pagar pembatas jalan dan rel kereta api. Saat itu warung tampak sepi, belum ada pengunjung. Namun tulisan pada banner yang tertempel di saung meyakinkan saya bahwa ini memang tempatnya. Sempat ragu-ragu namun akhirnya kami masuk dan pesan 2 buah surabi.

Kami menunggu di saung kecil seberang warung, melihat dua orang pegawai mengolah kue serabi di atas tungku memanjang dengan 12 wajan dari tanah liat di atasnya. Bara api tampak kentara dengan nyala merah di antara kegelapan malam, tidak sepenuhnya gelap sih karena masih ada lampu-lampu dari rumah, cuma kami masih sedikit trauma dengan jalan gelap yang kami lewati tadi.

2 surabi akhirnya datang, surabi oncom telor dengan saus mayonais untuk saya dan surabi coklat keju untuk Amy. Satu gigitan saja masuk ke dalam mulut dan saya sudah berani bertaruh bahwa ini salah satu serabi terbaik yang pernah saya cicipi selama hidup. Kuenya dibuat dari adonan yang pas sehingga menghasilkan rasa gurih dari santan kelapa dengan porsi yang tak kurang dan lebih. Tekstur kenyalnya berada di level yang mudah untuk dipotek dengan sendok tanpa harus melibatkan pisau yang bisa membuat surabi “rametek”. Walau ukurannya cukup besar dan tebal, namun tingkat kematangannya merata hingga ke bagian dalam surabi, rongga bolong-bolong yang dihasilkan memastikan tingkat kematangan tersebut. Bagian bawahnya kering berkerak namun tidak gosong. Sungguh surabi yang indah. Dan tentu saja hal lain yang cukup krusial adalah topping oncomnya, tidak banyak surabi yang bagus namun ditopang dengan oncom yang mengecewakan. Saya pribadi menilai setiap surabi dari oncomnya. Dan Surabi Gapura Kang Dyan ini menghadirkan oncom yang lezat. Aroma dari campuran rempahnya wangi, tekstur adonan oncomnya tidak basah namun juga tidak terlalu kering. Jumlah di toppingnya cukup banyak, tidak pelit lah ini mah. Pokoknya saya bahagia makan surabi ini. Terlebih saus mayonais yang menemani ternyata bukan mayonais pasaran, sehingga tidak merusak cita rasa otentik dari surabi oncom yang sudah sempurna ini. Ah maaf bila saya berlebihan, habisnya enak sih. Amy yang turut mencicipi pun mengangguk tanda setuju, dia memuji surabi coklat kejunya juga yang langsung habis disantap.

Sembari kami menikmati surabi lezat ini, ternyata warung mulai didatangi banyak orang, ada satu keluarga yang datang dengan anaknya, ada beberapa pasangan muda dengan membawa mobil (ternyata mobil bisa masuk sini, tadi kami nggak nemu jalannya), ada abang-abang ojek online yang sepertinya menerima orderan Go-Food atau Grab Food, dan semakin ramai ini warung. Dari wajannya yang berjumlah sampai 12 dan tampak sering digunakan harusnya ya tidak diragukan lagi bahwa memang ini warung sering banget dikunjungi. Mungkin kami datang tadi kebetulan sepi aja.

Malam makin gelap, jaket dan cover Pepiw semakin kami rapatkan karena angin bertiup cukup kencang, namun suasana hangat hadir dari riuhnya pengunjung yang terus datang dan tungku yang baranya senantiasa nyala terjaga. Pria di sebelah saya menyapa kami, beberapa saat kemudian kami baru sadar bahwa ia adalah Kang Dyan, sang pemilik dan pendiri usaha Surabi Gapura ini. Maka terlibatlah kami dalam obrolan yang membuat suasana tambah hangat.

Kang Dyan bercerita tentang usaha yang telah dirintisnya selama 7 tahun lamanya ini. Dia meyakinkan saya bahwa surabi olahannya beda, dia memberikan bahan terbaik agar surabi yang dihasilkan juga baik. “Oncomnya dipilih yang paling bagus, adonannya pun saya jamin bagus dan tak mudah basi. Lihat aja tekstur yang dihasilkannya, bolong-bolongnya bagus yah?”

Bahkan untuk hal saus mayonais dan saus lainnya, dia memilih untuk membuatnya sendiri. “Saya buat semacam adonan dasar untuk semua saus, bisa dijadikan mayonais, kalo ditambah coklat jadi vla coklat, bisa ditambah duren juga. Rasanya beda kan? Gak kaya kalo beli adonan jadi?” tutur Kang Dyan yang malam itu menyayangkan bahwa stok surabi duren sudah habis sehingga saya tidak berkesempatan mencicipinya.

Kang Dyan juga membeberkan proses kreatif saat bereksplorasi dengan surabinya. “Saya mah coba-coba saja, sambil seneng nguliknya. Ada surabi nih dicampur rujak, cuma ada di saya ini. Saya juga bikin kue ulang tahun dari surabi, banyak yang pesen” ujarnya sambil menunjukan beberapa foto dan video surabi buatannya di ponsel.

Pria dengan logat sunda yang kental ini yakin bahwa kelezatan, keunikan, serta harga surabinya yang terjangkau inilah yang membuat surabi ini terkenal di Purwakarta. “Banyak pesohor yang udah coba nyicipin, Kang. Pejabat, artis daerah, bahkan beberapa TV juga udah meliput ke sini” sekali lagi ia menunjukan video dan foto-foto pencapaian di ponselnya.

“Dulu warungnya ada di depan Kang, sama seperti titik di Maps, cuma semenjak lahan di sana alih kepemilikan kami jadi ga dapat izin jualan sampe malam, jadi pindah aja ke sini” Kang Dyan menjelaskan saat saya bertanya tentang ketidaksesuaian koordinat di Google Maps. “Tapi walaupun udah pindah ke sini, alhamdulillah tetap banyak yang nyari, tetap pada ke sini, istilahnya mah ini tuh permata yang tersembunyi lah” tambahnya.

Tak terasa malam semakin larut, obrolan dengan Kang Dyan membuatnya terasa singkat, warung surabi sudah hendak tutup, Kang Dyan sudah mengintruksikan pegawainya untuk beres-beres. Akhirnya saya pun izin pamit pulang, dan dengan kebaikan hati memberi kami 2 surabi pandan kinca. Oh senangnya. Hatur nuhun Kang Dyan.

Bersama Kang Dyan

Saat kami bercerita tentang jalan gelap dan bangunan rusak yang harus kami lewati, Kang Dyan meminta keponakannya untuk mengantar agar kami tidak ketakutan. Hahahaha, syukurlah. Dalam hati saya bergumam untuk Pepiw dan Amy “jangan takut gelap, karena di ujung kegelapan,ada surabi hangat nan enak yang menanti. Sebuah permata yang hilang dari Google Maps”.

#INFO_TKP
Nama: Surabi Gapura Kang Dyan
Alamat: Mulyamekar, Babakancikao, Purwakarta, Jawa Barat 41151
Koordinat: Google Maps (yeay, sekarang koordinatnya sudah di-update, jadi sesuai)
Harga: 7K-12K, tergantung topping.

Percakapan Imajiner dengan Pepiw

Sejatinya hari sudah memasuki waktu tidur Pepiw, namun pasca kepulangan dari rumah sakit, kadang tidurnya masih belum teratur. Sehabis magrib Ia tidur dan terbangun kembali setelah jam 8 lewat. Amy sedang menyetrika pakaian di kamar depan ketika saya yang sedang menggendong Pepiw menghampirinya. Sembari saya mencoba menidurkan si bayi, dan Amy menyelesaikan setrikaan, terlibatlah kami dalam sebuah obrolan ngalor ngidul seperti biasa. Namun karena dipicu oleh lirik lagu Di Beranda – Banda Neira yang sedang saya buka-buka albumnya, maka obrolan itu kemudian meluncur menjadi sebuah percakapan Imajiner antara Saya, Amy, dan Pepiw di suatu hari di masa depan. Saya dan Amy silih berganti mengisi suara Pepiw versi dewasa. Ini kemungkinan terjadi di tahun 2036, dan begini kurang lebih percakapannya:

👶🏻: Aku keterima sekolah di Eropa. Besok aku berangkat. Yeay.

🧕🏻: Bunbun dan Ayah senang mendengarnya, tapi nanti kita jauh ya?

👨‍🚀: Nanti kita bakalan sering rindu.

👶🏻: Tenang, nanti aku akan rajin menghubungi, kita video call tiap hari.

👨‍🚀: Aku gak bisa memelukmu nanti.

👶🏻: Pake emoji ini aja Ayaaaah 👉🏼 🤗🤗🤗🤗

🧕🏻: Bunbun ikut yah, kan kerjaan bisa dipantau dari sana aja, biar Ayah yang di sini kerja. Hihihi.

👨‍🚀: Ngga ah aku juga mau ikut, cari kerja di sana.

👶🏻: Ayah, Bunbun, aku perginya sendiri ihhh, kan aku harus belajar mandiri.

🧕🏻: Kalo gitu nanti Bunbun tengokin sebulan sekali aja ya. Sekalian kita travelling bareng di sana. Yah yah yah?

👶🏻: Bun ihhh, keseringan itu mah, sayang uang ongkosnya tau, mending ditabung buat beli perkebunan teh di Ciater.

👨‍🚀: Nanti siapa yang masakin buat kamu kalau ga ada aku?

👶🏻: Ini saatnya aku belajar masak sendiri, Ayah.

🧕🏻: Nanti siapa yang nemenin Bunbun wisata kuliner lagi?

👶🏻: Sesekali Bunbun bisa datang ke sana menengok, nanti kita wisata kuliner di sana, tapi jangan sering-sering.

👨‍🚀: Sayang, kamu beneran ini akan pergi sendiri?

👶🏻: Ayah, ini kesempatanku untuk benar-benar belajar mandiri. Kan Ayah sama Bunbun yang selalu ajarin buat aku mandiri. Apalagi ini impianku yang selangkah lagi bisa terwujud.

🧕🏻: Bun mendukung impian kamu,sayang. Jelas kami senang akan itu. Tapi kami…. Tapi kami…. *tercekat

👨‍🚀: Tapi kami nanti rindu. 😢

***

Percakapan imajiner ini berakhir begitu saja bersamaan dengan setrikaan yang selesai juga, yeay. Kami masih bisa menghadirkan gelak tawa karena geli sudah men-dubbing Pepiw di masa depan, hahaha,tapi entah kalau kelak itu memang kejadian. Huh.

Kami bertiga beranjak pindah ke kamar tidur dan begitulah sebuah fragmen terjadi di selasa malam yang dingin sehabis hujan bulan Januari dan sore yang penuh petir.

Oh, Ibu tenang sudah
lekas seka air matamu
sembapmu malu dilihat tetangga

Oh, ayah mengertilah
Rindu ini tak terbelenggu
Laraku setiap teringat peluknya

Dan jika suatu saat
Buah hatiku, buah hatimu
Untuk sementara waktu pergi
Usahlah kau pertanyakan ke mana kakinya kan melangkah
Kita berdua tahu, dia pasti

Pulang ke rumah


Di Beranda – Banda Neira

24 Jam di Purwakarta

Di penghujung tahun 2018 kemarin,saya, Amy, & Pepiw singgah sejenak di Purwakarta sebelum jatah libur  dihabiskan di Bandung. Saya tidak pernah menyengajakan diri untuk pergi ke kota yang seringnya hanya kami lewati begitu saja kala melintas jalan tol Jakarta – Bandung itu. Seperti hanya menjadi sebuah penanda berapa kilometer kami telah meninggalkan Jakarta, dan berapa kilometer lagi menuju Bandung. Lantas saat ide untuk singgah di Purwakarta ini tercetus, pertanyaan yang muncul adalah “ada apa di sana?” dan “apa yang akankita lakukan di sana?”.

Ah sebenarnya kami tidak mengharapkan apa-apa kecuali beranjak sejenak dari rutinitas harian, dan tentunya menikmati makanan khas yang enak. Jadi, inilah beberapa yang kami lakukan selama 24 jam di Purwakarta.

Singgah Untuk Merebah

Awalnya kami ingin menginap di d’Cabin Hotel Container. Sebuah penginapan dengan konsep kamar dari unit kabin kontener yang menghadap ke pemandangan Waduk Jatiluhur. Karena masih menyimpan hasrat untuk suatu saat bisa pergi dan menginap menggunakan campervan, kami pikir mencoba yang hampir mirip bisa jadi cukup menghibur. Namun karena ini adalah peak season di akhir tahun, dan ternyata cuma ada 4 kabin yang tersedia, maka kami sudah tidak kebagian lagi. Akhirnyak ami mengalihkan tempat ke Hotel Harper, minta kamar paling atas dan nikmati rasa santai ketika menyaksikan matahari tenggelam di balik pegunungan sambal rebahan dan untuk sementara tidak perlu mengecek email kantor.

Di pagi hari, ada kolam renang yang bisa kita nikmati karena kalau tidak ada rasanya tak sudi kita sengaja mengeluarkan uang untuk menginap di hotel. Namun percayalah, jangan berenang di hotel saat liburan akhir tahun, terlalu ramai sampai-sampai kau akan bisa menabrak badan orang lain tiap dua kali kayuhan. Bila kolam renangnya dekat dengan restoran hotel, itu akan lebih buruk karena bau sosis akan menyeruak di mana-mana akibat banyak yang menyelundupkannya untuk makan di tepi kolam. Bila hal itu sudah membuatmu depresi, Hotel Harper menyediakan opsi lain untuk menghabiskan waktu sebelum check out: bermain becak mini.

Seketika bernyanyi “harta yang paling berharga… adalah kulawargi…”

Mencicipi Surabi Oncom Terenak

Tidaklah elok suatu kota bila tidak menawarkan sesuatu yang enak untuk dicicipi. Di beberapa artikel daring,S urabi Gapura Kang Dyan harus kita coba kala berada di Purwakarta, dan saya orang yang mudah tergoda bila itu menyangkut tentang surabi. Maka berangkatlah kami ke sana tepat setelah waktu magrib, waktu terbaik ke tiga untuk menikmati surabi setelah pagi-pagi saat tetangga menyetel lagu Doel Sumbang keras-keras, dan saat hujan turun sementara kau lagi bosan dengan Indomie.

Walau untuk mencapai warung Surabi Gapura ini tidak mudah, sampai-sampai saya tulis perjalanannya di satu blogpost sendiri, namun hasil dari pencarian tersebuh tidaklah mengecewakan. Salah satu surabi terenak yang pernah dicicipi, lezatnya merata dari mulai kue, topping, sampai saus mayonaisnya yang dibuat sendiri oleh Kang Dyan selaku pemilik usaha. Sepulangnya dari sana perut kenyang, lidah dan hati senang.

Baca juga: Permata yang Tersembunyi dari Google Maps

Sate Maranggi dan Soto Sadang

Ini mah sudah pasti lah kalau ke Purwakarta banyaknya disarankan mencicipi Sate Maranggi dan Soto Sadang. Kebetulan saya juga sudah dari lama penasaran ingin menikmati Sate Maranggi Hj.Yetty langsung di tempatnya. Ternyata memang benar suasana di sana begitu ramai. Selain sate, di tempat Hj. Yetty ini juga menjual oleh-oleh dan makanan lainnya seperti Soto, Gado-gado, dan aneka gorengan. Sate maranggi identik dengan sate yang dihadirkan tanpa lumuran bumbu kacang, karena kondimen sudah ditambahkan pada saat proses pembakaran, bumbu kecap pun dihadirkan terpisah sebagai opsi tambahan bagi yang ingin. Sebagai pendamping, sate akan ditemani potongan tomat segar dan cabe rawit. Saya pesan sate kambing dan sapi, rasanya enak namun tidak begitu istimewa. Apakah mungkin karena eksepektasi saya di awal lebih dari ini? Sebenarnya ada sedikit rasa kecewa karena sate yang disajikan saya kira kurang fresh. Saya suka sate yang masih panas, fresh from the oven, sehingga bisa mendapati sensasi menggigit lemak yang terkaramelisasi dari luar namun bagian dalamnya lumer di lidah. Di SatecMaranggi Hj. Yetty Cibungur satenya kurang panas, mungkin karena saking banyaknya pendatang yang ingin dilayani dengan penyajian cepat maka proses masaknya memilih untuk menyetok sate yang sudah matang, alih-alih memasak begitu ada pesanan. But, at the end of the tongue, it was quite good.

Oh ya dan untuk soto yang saya coba di RM. Soto Sadang, saya suka kuahnya yang memiliki kaldu yang lezat dengan potongan bawang yang banyak. Sayang dagingnya sedikit mengecewakan, kami memilih daging buntut dan iga namun hadir dalam bentuk yang alot dan susah dinikmati. Sungguhlah kami merindukan daging yang luruh dari tulangnya dengan mudah. Di rumah makan Soto Sadang ini justru saya lebih suka gepuk, daging sapinya lumayan empuk namun tetap menyisakan kesan krispi. Dengan bumbu kelapa dan bawang goreng yang menyelimutinya membuat rasa gurih

Diguyur Kesegaran Es Ciming

ambil melanjutkan perjalanan ke arah Bandung, kami mampir di Es Ciming yang berlokasi di jalan Jendral Sudirman. Dengan matahari yang cukup terik di langit, rasanya begitu segar saat tenggorokan diguyur oleh varian dari jajanan es campur ini. Kombinasi bubur kacang hijau, cendol, dan agar-agar dibawah tumpukan es serut yang diguyur sirop dan krim kental manis cukup membuat suhu udara seakan-akan turun 5 derajat celsius. Bagi siapa-siapa yang memiliki kepribadian penyuka kudapan manis nan segar, rasanya Es Ciming ini cocok untuk dicoba.  Tempat jualannya terkesan klasik, bersampingan dengan pintu masuk terdapat meja kerja tempat mengolah es di bagian depan, lalu ruang yang kecil memanjang sampai dapur itu menghadirkan meja saji di tengah yang para pengunjung dapat berbagi kesempitan. Dinding toko didominasi warna lapuk seolah menegaskan usianya yang telah hadir di Kota Purwakarta sejak tahun 1970.

Dipayungi Teduh Taman Sri Baduga

Setelah di-boost dengan kesegaran Es Ciming, maka jalan santai mengelilingi Situ Buleud di tengah hari bukan lagi sesuatu yang menggetarkan nyali. Terlebih banyaknya pepohonan besar yang rimbun di sekeliling Situ membuat pasokan oksigen untuk tubuh kita berlimpah, adem sampe ke otak. Tadinya kami ke Situ buleud hendak melihat pertunjukan Air Mancur Taman Sri Baduga, namun air mancur menari terbesar se-Asia Tenggara itu hanya beroperasi di malam minggu dengan 2 kali pertunjukan saja, di pukul 19:00 WIB dan 21:30 WIB. Di jam tersebut, kami terjebak macet dan lapar sehingga lebih memilih makan surabi.

Jalan-jalan mengelilingi Situ Buleud di siang hari juga tak kalah menarik, selain teduhnya pohon, kita juga bisa menikmati relief tokoh pewayangan yang tertera di dinding Taman Sri Baduga. Bahkan patung besar Sri Baduga Maha Raja atau Prabu Siliwangi yang dikelilingi 4 patung macan di tengah situ lebih jelas terlihat di siang hari. Kalau dirasa sudah terlalu rapuh untuk berjalan kaki mengelilingi danau seluas 4 hektar ini, kalian bisa menemui kereta kencana yang dimodif dari sejenis sepeda motor kaisar dengan balutan ornamen naga.

Sudah Jangan Ke Jatiluhur

Sudah Jangan Ke Jatiluhur
Dia sudah ramai tamunya
Apalagi ada dangdutan
Mending lanjut pulang ke Bandung

(Dinyanyikan dengan nada Sudah Jangan ke Jatinangor – The Panasdalam)

Dan seperti itulah akhir dari perjalanan kami selama 24 jam di Purwakarta. Biasa saja. Semua orang mudah untuk melakukan hal yang sama. Tapi berapa tahun dari sekarang saya akan baca lagi tulisan ini dan melihat foto-fotonya, kemungkinan besar akan berkata kepada Amy dan Pepiw “Ah sayang lihat ini, ingat waktu di Purwakarta ini? Seru ya? Ayo kita lakukan perjalanan bertiga lagi!!!”.

Review Buku Anak “Rasa Sayang: Sing & Record Fun Book”

Dalam sebuah artikel di Tirto yang membahas tentang manfaat mengenalkan buku pada bayi, sang penulis merujuk pada sebuah hasil riset Departemen Pediatri, Fakultas Kedokteran New York University. Dari penelitiannya ditemukan bahwa hasil dari membaca buku dengan anak yang dimulai sejak bayi dapat meningkatkan kemampuan mengenal kosa kata dan kemampuan membaca hingga empat tahun kemudian, sebelum sang anak memulai sekolah dasar.

Sebagai pemuda yang menjadi orangtua karena sudah punya anak, setidaknya saya memiliki tujuan yang segendang-sepenarian dengan hasil penelitian di atas. Ingin mengenalkan buku kepada anak sedari dini dengan harapan kelak Pepiw menjadi insan yang rajin membaca, minimal kalau nanti dibeliin sesuatu dia baca dulu deh manual book nya jangan asal langsung pasang terus pas rusak complain ke orangtuanya. Namun di awal saya, dan mungkin juga kebanyakan orang tua, bertanya-tanya buku apa yang harus saya mulai kenalkan pada anak? Perlu melewatkan beberapa waktu, beberapa percobaan, dan beberapa pengamatan bagi saya untuk akhirnya memutuskan bahwa buku yang cocok untuk pertama kali saya kenalkan pada bayi adalah Rasa Sayang terbitan Baba Baa.

Awalnya, saya dan Amy mulai bacakan beberapa buku cerita anak klasik saat Pepiw menginjak usia 3 bulan. Waktu itu sederhana saja, saya membacakan buku di sebelah Pepiw, sesekali menunjukan beberapa gambar yang ada di buku untuk menarik perhatiannya. Saya tidak berharap dia langsung tertarik, lantas dengan antusias mendengarkan saya bercerita. Rasanya cuma sesekali saja dia mencoba meraih buku, penasaran ingin memegangnya. Selebihnya hanya gugup tak bergerak dan kulihat ada pelangi di bola matanya *brb pakai kupluk dan kacamata hitam*.

Seiring waktu dan perkembangan gerak halus Pepiw yang mulai ingin meraih benda di hadapannya, dia mulai susah anteng saat dibacakan buku, alih-alih mendengarkan dia malah lebih tertarik untuk meraih buku yang saya pegang. Munculah rasa kekhawatiran kami kalau Pepiw merobek halaman buku atau air liurnya akan merusak buku. Sayang sekali kalau bukunya keburu rusak sebelum isi buku atau kebiasaan membacanya belum tersampaikan. Untuk tetap mengakomodir proses stimulasi gerak halus Pepiw sekaligus menjalankan proses pengenalan pada buku, maka saya dan Amy akhirnya menggunakan pillow book atau buku bantal sebagai medianya.

Dengan memilih warna buku bantal yang mencolok, Pepiw cukup tertarik untuk meraihnya. Saya bisa dengan tanpa khawatir saat membacakan tulisan dan menunjukan gambarnya. Namun rasanya pengalaman membacakan buku bantal itu belum memuaskan. Seperti kurang nyata saja pengalaman membaca menggunakan buku bantal. Bila merujuk hasil observasi Montessori perihal keinginan/kesukaan, anak lebih suka menggunakan barang-barang yang sebenarnya. Padahal mah yang penting kan membacakan isinya ya? Toh zaman sekarang juga media membaca sudah tidak zakelijk lagi berbentuk buku kertas. 😀

Gayung bersambut, kata berjawab. Saat kami sedang mencari, Amy akhirnya menemukan Sing and Record Fun Book “Rasa Sayang”. Ada beberapa poin yang akan coba saya review terhadap buku ini sehingga saya dan Amy bisa mengatakan bahwa sejauh ini buku “Rasa Sayang” ini lah yang paling cocok dengan kriteria yang kami inginkan dalam aktivitas membaca buku bersama anak bayi.

Material yang Kuat dan Aman buat Anak
Buku dengan kertas tebal ini didesain sedemikian rupa agar setiap sudutnya tumpul dan dipotong dengan halus, ini berlaku untuk bagian sampul, isi, maupun bagian kemasan tombol dan batrenya. Hal ini membuat tangan anak nyaman saat memegang sehingga orang tua tidak khawatir anaknya akan tergores saat mencoba mengeksplorasi bagian-bagian bukunya. Saya sendiri pernah menemukan buku anak lain yang ujung kertasnya yang masih kasar.

Bagian sampulnya tidak sepenuhnya keras walau tebal, seperti ada bahan lain dengan sifat lunak di bagian permukaan dalamnya. Ini penting dalam mengantisipasi kepala bayi yang terpentok saat membaca dalam posisi tengkurap. Saya perhatikan Pepiw juga kadang masih suka nyungsep saat hilang kontrol untuk menegakkan kepalanya.

Selain ramah anak, materialnya pun kuat untuk mengantisipasi resiko kerusakan. Kemampuan anak yang belum bisa membolak-balikkan halaman dengan rapi diantisipasi dengan perekat yang baik di bagian punggung buku, halamannya gak rentan copot. Resiko terkena air liur bayi pun diantisipasi dengan memilih bahan pelapis kertas yang cukup untuk menahan isi cetakan bila terkena air.

Isi Buku yang Menarik
Awal mula buku ini hadir adalah karena keresahan seorang ibu pecinta musik asal Malaysia yang merasa bahwa belum ada materi literasi budaya Melayu untuk anak yang berkualitas. Padahal menurutnya banyak lagu-lagu folk Asia memesona yang sering ia dengarkan sedari kecil. Impiannya untuk membagikan lagu dan cerita dari kebudayaannya itu akhirnya terwujud dalam bentuk Rasa Sayang Sing & Record Fun Book ini.

Buku ini didesain untuk bisa digunakan oleh anak mulai usia 6 bulan hingga 6 tahun. Diproduksi oleh Baba Baa yang didirikan oleh sang Ibu, dan dinamai dari kata pertama yang bisa diucapkan oleh anaknya, Hugo. Buku ini didistribusikan di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei. Buku edisi Indonesia memuat 7 lagu folk yang terkenal di kebudayaan Melayu, yaitu Rasa Sayange, Anak Kambing Saya, Burung Kakak Tua, Nina Bobo, Lenggang Kangkung, Bengawan Solo, dan Gelang Sipaku Gelang yang bisa diputar dengan tombol yang mudah untuk dinavigasikan.

Menurut pengamatan saya, sepertinya untuk buku yang diedarkan di Negara lain, judul dan lirik lagunya disesuaikan dengan judual yang popular di Negara tersebut, walaupun lagunya sama. Sebagai contoh, lagu Anak Kambing Saya di edisi lain berjudul Chan Mali Chan. Juga ada lagu Anak Itik Tok Wi, yang dalam buku edisi Indonesia tidak disertakan.

Visual yang Asyik dan Suara yang Jernih
Ilustrasi yang disertakan dalam setiap lagu di buku ini begitu menarik. Digambar oleh Aditya Pratama dengan gaya surealis disertai pilihan warna yang cerah namun tetap halus di mata anak. Ini memungkinkan kita untuk membebaskan imajinasi saat menceritakan isi lagu kepada anak, lebih luas dari sebatas lirik yang tertera. Tidak tekstual yang kadang membuat kita pegal membaca.

Ilustrasinya cakep.

Walau lagu lama, namun musiknya diaransemen ulang, direkam di Surabaya lalu diproduksi di Singapura. Cukup menunjukan upaya yang serius dalam menghasilkan musik yang bagus untuk anak. Terbukti ketujuh lagu folk yang dinyanyikan oleh Kezia Evana Jaya tersebut terdengar cukup segar walau lagunya sudah sangat popular dan sering dinyanyikan di budaya melayu. Kualitas speaker yang ditanam dalam bukunya cukup bagus sehingga suara yang dihasilkan jernih, tidak cempreng. Saya dan Amy sempat membeli buku musik untuk anak yang berisi lagu Mozart namun kualitas speaker-nya membuat kami sakit telinga. Selain memutar lagu bawaan, kita juga bisa merekam lagu dengan suara sendiri di buku ini. Kualitas mikrofonnya cukup baik, tidak banyak noise yang dihasilkan saat hasil rekamannya kita putar.

Terjemahan Lirik yang Lumayan Pas
Di setiap lagu, disertakan pula lirik versi bahasa Inggris. Menarikna, lirik-lirik dalam Bahasa melayu tersebut tidak diterjemahkan secara literal ke Bahasa Inggris. Pemilihan kata dalam Bahasa Inggris-nya menyeseuaikan dengan nada, sehingga kita tetap bisa menyanyikan lagunya dengan nada yang pas. Ya walau ada di beberapa bagian yang rasanya kita harus memaksakan pengucapannya agar masih enak dinyanyikan. Hehehe. Ini cukup bagus bagi orang tua yang hendak mengenalkan Bahasa Inggris pada anak.
Kita lihat contoh salah satu lagu ini, coba kalian nyanyikan dalam lirik Bahasa inggrisnya.

Pilihan Aktivitas yang Menyenangkan untuk Bayi dan Orang Tua
Rasanya bukan saya saja yang terkadang turut bosan ketika membacakan buku untuk anak. Membacakan buku terasa seperti bicara satu arah dengan kemungkinan besar dicuekin sama sang pendengar, tidak ada feedback, tidak ada dialog. Hahaha. Perlu keteguhan agar bisa istiqomah melakukannya. Nah buku Rasa Sayang ini memberi alternatif kegiatan lain saat rasa bosan itu muncul. Fitur Sing and Record-nya membuat kita bisa membuat aktivitas menyenangkan lain selain membaca. Bernyanyi bersama, merekamnya, lalu mendengarkan hasil rekamannya cukup bisa membuat suasana segar kembali saat bosan membaca.

Buku ini juga bisa kita gunakan sebagai alat stimulasi anak dalam kemampuan bicara dan Bahasa. Aktivitas yang dilakukannya seperti mengajak berbicara, mencari sumber suara, menirukan kata-kata, menunjuk dan menyebutkan nama-nama gambar dalam buku.

Saya mendapatkan buku ini dengan harga 315 ribu rupiah, harga yang cukup masuk akal bila dilihat dari material, desain, dan produksi yang serius untuk menghasilkan buku yang berkualitas. Tim penyusunnya orang-orang yang professional dan sebagaimana judulnya, saya pikir mereka berhasil menuangkan rasa sayang pada buku ini. Bagi saya pribadi, baiknya memaksa diri menabung untuk membeli buku bagus ini, karena sayang aja bila melewatkan materi belajar yang bagus untuk anak. Terlebih membacakan buku untuk anak sedari bayi itu ternyata memang punya dampak yang baik untuk kemampuan bahasa dan bicara. Beruntung bagi saya karena Amy menemukan buku ini dan kebetulan di kantor saya ada Let’s Learn Program yang meng-cover pembeliannya. Hehehe. Semoga kalian pun bisa beruntung untuk mendapatkannya ya, dan mari kita berusaha untuk konsisten membacakannya.

Membacakan buku untuk anak, membacakan harapan untuknya. 🙂

Nuran Wibisono dan Makanan Lezat yang Hadir Setelahnya

Saya pertama kali mengetahui nama Nuran Wibisono lewat sebuah ebook berjudul Alone Longway from Home (2009). Catatan perjalanan menyusuri daratan Jawa hingga Flores menggunakan sepeda motor yang ditulis bersama Ayos Purwoaji itu menjadi titik awal saya mengenal karya-karya Mas Nuran. Di waktu  permulaan itu, saya menikmati tulisan perjalanan backpacking-nya yang memicu diri untuk turut melakukan hal yang sama dengannya. Namun, di kemudian hari, saya menemukan juga tulisan-tulisan Mas Nuran yang lainnya yang berbicara tentang buku, musik, dan kuliner. Untuk hal terakhir, bahkan tulisan pria asal Lumajang ini membuka pemahaman saya dalam memandang menikmati makanan. Tidak lagi sama seperti sebelumnya.

alone longway
Untuk membaca catatan lengkap ini silakan mengunduhnya lewat blog Mas Nuran di sini.

Sebelum membahas bagaimana tulisan kuliner Mas Nuran telah mengubah cara pandang saya terhadap makanan, saya teringat bahwa pertama kali saya membaca Alone Longway from Home dikarenakan tawaran dari kawan saya, Risan, dengan sebuah kalimat persuasif yang berbunyi “baca ini, tulisannya renyah”. Sebuah kalimat metaphor yang tanpa saya sadari sudah berkaitan dengan makanan sedari awal. Dalam waktu saya membaca karyanya hingga sekarang, setidaknya ada tiga hal utama terkait pengaruh tulisan-tulisan Mas Nuran bagi saya, ketiganya berhubungan dengan perjalanan, musik, dan dunia kuliner.

Menghidupkan Mimpi Pergi ke Eropa

Ketika menemukan tulisan Mas Nuran di blog yang membawanya terbang ke Eropa untuk menjalani kursus musim panas selama 1 bulan di Jerman, saya terpesona dan menyadari bahwa tulisan bisa membawamu pergi ke mana saja. Saya yang bermimpi pergi ke Eropa pun mulai mencoba lebih giat menulis dan mengikuti beberapa lomba yang berhadiah perjalanan ke benua biru itu. Saya ingin menuliskan catatan perjalanan di Eropa seperti ketika Mas Nuran menuliskan kisah perjalanan dari Jerman ke Paris untuk berziarah ke makam Jim Morisson. Tulisan perjalanannya begitu hidup dan sangat personal, tak cuma sekadar berisi tentang daftar tempat dan bagaimana cara pergi ke sana. Mungkin ini berkat latar belakang Mas Nuran yang menulis dengan gaya jurnalisme sastrawi.

 Baca juga: Naar De Europa Land

Ketika pada akhirnya alhamdulillah saya berhasil pergi ke Eropa, walau bukan melalui lomba menulis, ada sebuah kisah yang berhubungan dengan cerita Mas Nuran. Kala itu saya berada di kota Paris dan dibawa ke sebuah plaza bernama Palais de Chaillot untuk melihat pemandangan menara Eiffel yang menjulang. tiba-tiba saya teringat kisah perjalanan Mas Nuran lalu bertanya kepada pemandu lokal di sana seberapa jauh jarak dari tempat ini ke makam Jim Morison di Pere La Chaise. “Lumayan, namun kita tidak pergi ke arah sana” ujar sang pemandu sambil tersenyum. Saya sedikit kecewa namun kemudian mawas diri karena ini perjalanan dinas dari kantor, bukan perjalanan pribadi. Selanjutnya ketika kendaraan rombongan melintasi Notre-Dame saya teringat tak jauh dari sana harusnya ada toko buku Shakespeare & Co. yang ingin sekali saya kunjungi. Saat mengkonfirmasinya ke sang pemandu, dengan cekatan dia menunjukan tempat di mana toko buku tua itu berada namun diikuti dengan kalimat “tapi kita tidak bisa mampir ke sana karena waktunya tidak cukup”. Juga ketika tertarik untuk mendatangi para penjaja buku di dekat Pont des Arts, sang pemandu hanya tersenyum seolah meminta saya memaklumi ia yang tak bisa membawa saya ke sana, terlebih tak ada orang lain di rombongan yang tampak ingin melakukan hal yang sama.

Walau kembali kecewa, saya mencoba bersyukur setidanya bisa menatap tempat-tempat itu walau dari jarak 30 meter dan terhalang kaca jendela bis. Di akhir perjalanan, sang pemandu menghampiri saya, lantas sambil tersenyum ia berujar “sepertinya kamu punya ketertarikan yang tak umum. Kamu harus kembali ke kota ini nanti dan kunjungi tempat-tempat yang kau ingin datangi”. Saya membalas senyumannya dan mengamininya dalam hati, semoga bisa datang lagi ke Paris bersama Amy & Pepiw, lalu menuliskan kisahnya seperti yang dilakukan seorang Nuran Wibisono.

dsc04404.jpg
Sang pemandu, yang saya lupa namanya. 😦

Mendengarkan Musik lewat Tulisan

Saya tertegun ketika membaca tulisan ini. Entah bagaimana caranya saya seolah bisa mendengarkan lagu yang diceritakan oleh Mas Nuran dalam tulisan tersebut, terasa mengalun dalam kepala padahal belum pernah sekalipun mendengar lagu tersebut sebelumnya. Kemampuannya menarasikan sebuah lagu dalam tulisan lantas menggabungkannya dengan cerita fiksi yang ia buat, tak lupa dibumbui humor di beberapa bagian, seolah membuka wawasan saya untuk bisa menikmati sebuah musik dengan cara lain. Bahkan saya pernah dengan tanpa malu mencoba meniru tulisan tersebut dengan versi saya sendiri.

Baca tulisannya di sini: Bob Dylan, Hatchard, dan Senja di Picadilly

Semenjak saat itu saya menyukai tulisan musik, terlebih yang bercerita secara personal atau yang dibahas dengan mendalam. Sekarang selain sedang membaca buku Mas Nuran berjudul “Nice Boys Don’t Write Rock n Roll”, saya juga membaca buku tentang musik lainnya karya Herry Sutresna “Setelah Boombox usai Menyalak”, “Pop Kosong Berbunyi Nyaring”-nya Taufiq Rahman, atau tulisan-tulisan lama di Jakarta Beat dan blog-nya Soleh Solihun. Terima kasih Mas Nuran yang telah membawa saya menyenangi tulisan-tulisan tentang musik.

Pada penghujung Maret 2016, akhirnya dengan tanpa sengaja saya bertemu dengan Mas Nuran di konser tunggal Silampukau yang dihelat di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Cikini. Selepas konser dari kejauhan saya seperti melihat wajah yang familiar, lantas saya sapa sosok tersebut. Benar saja beliau adalah Nuran Wibisono dalam balutan kaos abu Silampukau yang juga saya punya. Beruntung hari itu saya tidak memakai kaos yang sama untuk mengurangi kesan dramatis pertemuan itu. Saya sempat mengajaknya ber-swafoto (yang hasilnya tak terlalu bagus). Di penghujung perjumpaan kami saling bertukar kartu nama, namun setelahnya -untuk waktu yang lumayan lama- saya segan untuk menghubungi nomor yang tertera di kartu nama tersebut.

Omong-omong tentang Silampukau, baca deh tulisan ciamik karya Mas Nuran yang berjudul “Menonton SIlampukau di Jakarta” ini. Kelindan antara lagu dan tulisan yang begitu memukau. 🙂

img_3735
Bertemu Nuran Wibisono di konser Silampukau

Makanan yang Hadir Lebih Lezat

Sedari kecil, saya menyukai acara masak-memasak di televisi. Dari zaman Sisca Soewitomo, Rudy Choirudin, Bondan Winarno, hingga Rinrin Marinka. Namun saat itu saya hanya sebatas menonton dan berangan-angan bisa menikmati masakan yang ditayangkan itu.

Dalam beberapa tulisan, Mas Nuran sering menyinggung tentang kehebatan almarhum Bondan Winarno dalam mengulas suatu makanan baik lewat tulisan maupun acara Wisata Kuliner di televisi. Menurutnya, itu disebabkan oleh karena almarhum adalah mantan jurnalis yang juga menghasilkan tulisan-tulisan bagus, maka dari itu narasinya terhadap makanan begitu pas. Terlebih selain menuturkan rasa, beliau mampu mengejawantahkan pengetahuan tentang seluk beluk dibalik suatu makanan. Pandangan Mas Nuran terhadap sosok Bondan Winarno telah membawa saya untuk juga mengikuti karya-karya Pak Bondan. Saya mencari beberapa bukunya dan turut memburu makanan yang diulas olehnya. Semenjak saat itu, saya jadi semakin kagum terhadap sosok almarhum Pak Bondan, dan hingga saat ini terus mencoba mengumpulkan karyanya.

img_1014
Salah satu buku Pak Bondan yang menemani saya menjelajahi (sebagian) makanan di Jakarta.

Baca Juga: Kuliner Lepas Pulang Kantor

Dua bulan setelah perjumpaan saya dengan Mas Nuran di Cikini, saya memberanikan diri untuk menghubunginya lewat WhatsApp. Saat itu saya hendak pergi ke Malang dan meminta saran dari Mas Nuran tentang masakan apa saja yang wajib dicoba di sana. Hamdalah Mas Nuran merespon pesan saya dengan hangat dan memberi beberapa rekomendasi makanan yang tentu saja saya libas setibanya saya di Malang.

Semenjak saat itu, kami saling mengikuti dan beberapa kali bertukar pesan di sosial media Instagram. Saya senantiasa menunggu karya-karya tulisan Mas Nuran baik itu tentang perjalanan, buku, musik, ataupun makanan. Di suatu waktu saya sudah bisa sampai pada tahap di mana saya bisa menebak suatu artikel itu ditulis oleh Mas Nuran tanpa melihat informasi penulisnya siapa. Bila disandingkan dengan dunia fandom K-Pop, level nge-fans saya terhadap Mas Nuran apakah sudah sampai pada tahap teriak-teriak histeris belum ya?

Sekarang, selain aktif menulis sebagai jurnalis di tirto.id dan merawat blog nuranwibisono.net, Mas Nuran mulai membangun sebuah blog khusus tentang dunia kuliner di kataboga.wordpress.com. Ia membuat blog tersebut sebagai sebuah penghormatan kepada mendiang Bondan Winarno.

Sebagai sesama warga Depok, semoga saya bisa berjumpa lagi dengan Mas Nuran di suatu kesempatan yang penuh dengan makanan lezat, lantas bisa bersua juga dengan Mbak Rani dan Joplin. Sehat selalu dan senantiasa menghasilkan karya-karya tulis yang ciamik, Mas Nuran.

Salam.

 

El Clásico dan Anjing di jalanan Barcelona

DSC06215
Penghujung sore di musim gugur kota Barcelona.

Beberapa minggu sebelum hari ini, Androys Frediesta tengah menenggelamkan dirinya pada koran El Mundo Deportivo di cafe pinggir jalan dekat stadion Camp Nou. Ditemani teh dan anjing peliharaannya yang setia, ia dengan santai nan optimis menghadapi hari-hari menjelang laga #elclásico.

Seorang bocah bernama Lionel Tonni, yang merupakan pendukung klub sepakbola Barcelona menghampirinya dan bertanya “Tuan Frediesta, apa tips nya agar tetap santai seperti anda, padahal El Barca akan tanding lawan El Real sebentar lagi?”

Sang tuan menyelesaikan satu seruput teh hangat dalam cangkir lalu berceloteh “Aku santai karena aku tinggal pergi ke BAR, sambil tidak lupa membawa CELO, dan kita bernyany NA NA NA!”.

Mengetahui kakek di depannya ternyata followers Twitter @pidibaiq sama seperti dirinya, maka Lionel Tonni dengan semangat menimpali nukilan dari Pidi Baiq itu dengan nukilan khasnya yang lain “Hiduplaaah… Barcelona Raya…”.

Entah seperti apa prosesnya, namun setelah berceloteh bersama Tuan Frediesta perasaan Tonni jadi lebih tenang dan santai dalam menghadapi laga El Classico nanti malam, dan mungkin juga dalam menyikapi segala masalah kehidupan yang lainnya.

Pada malam harinya, Lionel Tonni tertidur lelap di depan televisi saat Sergio Busquet cs berhasil menaklukan Real Madrid dengan skor telak 3-0. Di sudut kota yang lain, Androys Frediesta yang sedang ditemani anjing kesayangannya mengirim sebuah SMS ke sang bocah: “Kau lihat tadi, nak? Kemerdekaan memang harus kita rebut dengan cara yang santai seperti ini. Viva la Catalunya Libre!”

***

Cerita fiksi ini merupakan oleh-oleh dari kota Barcelona. Saat mendapat kesempatan mengunjunginya pada musim gugur tahun 2017, saya mendapat impresi yang cukup hangat pada kota ini. Saya tertarik dengan lazimnya pemandangan  penduduk setempat, terutama orang tua, yang jalan-jalan dengan hewan peliharaannya di sini. Saya bertanya kepada supir bus yang mengantarkan rombongan, dan beliau menjawab bahwa memang di kota Catalan ini para anak muda banyak yang “keluar rumah” untuk memulai nasib sendiri, sehingga orang tua yang kesepian memilih hewan peliharaan sebagai teman mereka.

Setelah itu kemudia saya baca sebuah artikel di Metropolitan ini, ternyata memang Barcelona dikondisikan sebagai kota yang ramah terhadap hewan peliharaan, terutama anjing dan kucing. Menurut data yang tertulis di sana, terdapat 144 ribu anjing dan 28 ribu kucing yang tinggal di kota dengan jumlah penduduk 1,7 juta jiwa tersebut. Namun tidak dirincikan apakah mayoritas pemilik hewan peliharaan tersebut ada pada rentan usia tertentu.

Dengan alasan apa pun masyarakat Barcelona memelihara anjing dan kucing, nyatanya itu benar-benar menyenangkan melihat hewan peliharaan ramah berkeliaran dan berdampingan dengan manusia. Semoga kelak bisa hadir kembali di sana, mengajak Pepiw dan Amy untuk bertemu hewan peliharaan klasik nan lucu yang berlalu-lalang di jalanan kota yang indah. Terlampir tambahan oleh-oleh dari saya berupa rangkaian foto, dan selamat menyaksikan pertandingan El Clasico pertama tanpa Ronaldo dan Messi. 🙂

 

 

De Pepiw dan Lidah(ortu)nya

img_0808
Hola!

Sejauh ingatan, terakhir kali saya dan Amy berkeluyuran untuk berburu kuliner adalah saat dia hamil 7 bulan dan masih pergi ke kantor. Setelahnya, kami lebih sering mencoba-coba makanan baru hanya lewat Go-Food, yang mana kadang rasanya tidak seaktual ketika mencoba langsung di tempat. Masak sendiri di rumah? Hmmm… rasanya baru outug oncom dan tempe goreng saja yang mampu menghibur indra perasa Amy. Masih perlu banyak belajar.

Baca juga: Kuliner Lepas Pulang Kantor

Setelah Pepiw hadir, kesempatan untuk eksplorasi kuliner semakin terbatas. Alasannya lebih karena khawatir kondisi lingkungan tempat makan yang bisa saja kurang baik untuk Pepiw. Misal karena asap pembakaran makanan atau asap rokok, belum tingkat kehigienisan meja makannya. Ah pihariwangeun pokoknya mah.

Baru setelah Pepiw lewat usia 4 bulan, kami mulai beranjak dan mencoba memanjakan lidah kami lagi dengan menyicipi aneka kuliner di berbagai tempat. Membawa serta Pepiw untuk bertamasya lidah ini turut menjadikan kriteria tempat yang akan dikunjungi harus kami pelajari dulu. Karena memasukkan syarat bebas asap rokok dan nyaman untuk menyusui serta mengganti pakaian bayi, seringnya kami berakhir di tempat makan yang berada di area mall. Menurut kami ruang jelajah kuliner di mall itu kurang luas karena harganya yang lebih mahal sehingga kami memilih makanan yang sudah pasti enak saja, tanpa berani berspekulasi mencoba yang baru. Ini bukan hal yang terlalu buruk sebenarnya, karena bagaimana pun kenyamanan Amy dan Pepiw menjadi prioritas. Terutama niatnya adalah juga mencoba mengenalkan Pepiw pada suasana makan di luar rumah.

Menjelang Pepiw usia 6 bulan, suatu siang di akhir pekan kami pergi ke daerah Matraman, lalu mendadak memutuskan untuk mampir di Bakmi BBT. Ini pertama kalinya kami makan di sana, hanya mempelajari tempatnya sekilas dari internet. Sampai di sana awalnya ragu tempatnya bisa nyaman untuk Pepiw. Pertama karena tempat parkirnya kecil sampai kami parkir di lahan bangunan sebelahnya, dan dari depan bangunannya tampak sempit.

Ternyata bangunannya memanjang ke belakang dengan ruang yang sedikit lebih lebar untuk area pengunjung, bagian depan hanya untuk kasir dan lapak penjual Es Duren yang juga merupakan partner Bakmi BBT. Atap bangunan yang tidak terlalu tinggi awalnya membuat saya khawatir bahwa kondisi di dalam akan pengap, namun ternyata sirkulasi udaranya lumayan bagus, ditunjang dengan ventilasi yang cukup banyak dan hembusan beberapa kipas angin yang tergantung di dinding.

Kami datang sekitar pukul 11 di mana pengunjung masih belum terlalu ramai, sehingga kami bisa makan dengan lumayan nyaman. Pepiw duduk di pangkuan kami secara bergantian, tergantung giliran siapa yang lagi makan. Dan ternyata dia cukup senang setelah kami perhatikan. Hampir sepanjang waktu makan Pepiw bersuara sambil memainkan tangannya untuk menyentuh apa pun. Kami beri mainan agar tak terlalu sering dia menyentuh meja makan. Sesekali dia tertarik dengan lalu lalang orang dan beberapa benda yang tergantung di dinding. Kesimpulannya Pepiw sudah bisa nyaman diajak kulineran. Yeay!

Semenjak itulah kami mulai kembali mengunjungi tempat-tempat makan yang kami mau. Tidak begitu sering karena menyesuaikan budget makan di luar. Bisa saja ketika tiba-tiba ingin ayam pop panas, kami beranjak ke rumah makan padang. Atau saat di perjalanan tiba-tiba lihat warung nasi sumedang yang tampaknya enak, kami sudah berani mampir sama Pepiw. Pesan lewat go-food juga masih jadi pilihan saat malas jalan ke luar. Ketika ada jadwal pergi ke dokter biasanya juga kami manfaatkan untuk sekalian mampir makan. Dan Pepiw jarang sekali rewel sepanjang kami ajak makan, bahkan beberapa kali dia malah memilih nyaman tidur di pangkuan selagi kami menyantap makanan.

Pepiw sekarang sudah menginjak usia 6 bulan, dan sudah mulai makan. Lidahnya sudah mulai mencecapi rasa selain ASI. Saya dan Amy berusaha sebaik mungkin untuk menghadirkan aneka Makanan Pendamping ASI yang sehat dan lezat. Selain itu semoga kami bisa mengajarkan cara makan yang baik dan menghargai makanan yang bisa kami dapat. Karena bagaimana pun, makanan lezat adalah anugerah yang indah di bumi ini. Semoga kelak lidah Pepiw, juga lidah orang tuanya ini, dapat berkelana ke berbagai rasa yang lebih luas.

Halo, kawan-kawan yang baca punya rekomendasi resep MPASI yang bisa memanjakan lidah bayi dan tetap baik untuk pertumbuhannya?