Data Science dalam Industri Telekomunikasi (Bagian 1)

Setelah sebelumnya membahas profesi seperti apa yang bisa digeluti dalam dunia Data Science, kali ini saya akan bertutur tentang praktek Data Science yang dilakukan di industri Telekomunikasi. Berdasarkan pengalaman kerja saya selama 7 tahun di industri tersebut, sebenarnya praktek Data Science secara parsial sudah sering dilakukan oleh para pegiat Telekomunikasi, baik saat perencanaan, perawatan, atau pengembangan.

Baca juga: “Jenis Profesi yang Bisa Digeluti dalam Data Science“.

Salah satu contoh adalah bagaimana tim OSS Engineer menghimpun ribuan data dari jaringan selular untuk “dibersihkan”, kemudian diolah lebih lanjut sesuai kebutuhan. Atau bagaimana tim Performance yang setelah mengolah banyak data hasil monitoring, kemudian memvisualisasikannya dalam laporan berkala. Pemecahan masalah oleh tim Optimisasi jaringan juga didapat dari hasil mengolah banyak variabel data dari jaringan perangkat yang luas.

Seiring berkembangnya volume, variety, dan velocity data yang berbanding lurus dengan semakin barunya sistem jaringan telekomunikasi, penanganan data pun akan ikut naik level. Berdasarkan data dari Strategy Analyctics, di semester pertama pasca launching jaringan 5G, dalam 1 bulan SK Telecom mengalami 2,6x kenaikan trafik data dibanding jaringan 4G nya. Di sinilah urutan kerja Data Science secara keseluruhan dapat ambil andil untuk tetap mendapatkan insight yang diinginkan dari banyaknya data yang ada. Berdasar pada pengalaman penulis sendiri dan sejumlah sumber bacaan, berikut ada beberapa use cases Data Science dalam industri Telekomunikasi:

Mendeteksi Fraud
Operator telekomunikasi memiliki banyak pengguna tiap hari dengan trafik data yang besar, sehingga memiliki potensi fraud yang tinggi. Resiko fraud-nya bisa berupa abusive call, SIMBox fraud, high traffic international call, atau yang berhubungan dengan data pelanggan seperti akses ilegal, otorisasi, dan pencurian profil pelanggan. Hal seperti ini jelas ingin dihindari karena berpengaruh pada engagement perusahaan dan pengguna layanan.

Dengan menerapkan algoritma unsupervised machine learning pada sebagian besar data yang masuk, operator dapat mengetahui karakteristis trafik data yang normal, sehingga anomali yang bisa berkaitan dengan fraud dapat didefinisikan dan divisualisasikan untuk dianalisa. Hal tersebut memberikan efesiensi yang tinggi untuk memberi respon yang hampir real time terhadap aktivitas mencurigakan.

Analisa Prediktif
Banyak jenis modeling Machine Learning bersifat prediktif yang bisa diterapkan dalam keseharian kerja Contohnya di pekerjaan saya sebelumnya yang mendesain penambahan kapasitas di sisi kontroler (BSC/RNC). Dengan Analisa Prediktif menggunakan model Linear Regression, bisa lebih cepat dan akurat menentukan penambahan lisensi atau kapasitas hardware di setiap projek Roll Out yang berjalan tiap tahunnya. Implikasinya tim bisa membelanjakan capex/opex dengan lebih akurat. Metoda ini bahkan bisa diterapkan pada level node yang lebih banyak seperti BTS/NodeB/eNodeB.

Customer Segmentation
Kunci kesuksesan bagi perusahaan telekomunikasi adalah untuk membagi pasar mereka dan menargetkan konten sesuai dengan masing-masing kelompok. Kita tahu beberapa operator telekomunikasi di Indonesia punya beberapa brand untuk menyasar segmen customer yang berbeda. Seperti XL Axiata dengan XL , XL Prioritas dan Axis atau Telkomsel dengan SIMpati dan KartuHALO nya. Pengelolaan data dengan level advance memungkinkan Operator bisa memprediksi kebutuhan, preferensi, dan reaksi pelanggan terhadap layanan/produk yang ditawarkan. Hal tersebut memungkinkan penargetan bisnis bisa ditingkatkan.

Network Management and Optimization
Machine Learning dapat membantu Operator untuk mengukur KPI jaringan secara otomatis dan menampilkannya secara real time agar para Engineer dapat fokus pada penyelesaian problem aktualnya. Beberapa model dapat mengurangi waktu investigasi masalah pada seluruh jaringan secara end to end. Cara optimisasi jaringan dengan lebih efisien ini secara tidak langsung akan berimbas pada meningkatnya customer experince.

Beberapa use case lainnya akan tayang dalam tulisan bagian kedua. Opini saya di atas sangat terbuka untuk dikoreksi, didiskusikan, atau akan lebih senang bila ada pembaca yang menambahkan data lainnya. Ciao!

Jenis Profesi yang Bisa Digeluti dalam Data Science

Minggu lalu, saat baru memulai di modul ketiga dalam kelas Data Science yang saya ikuti, ada materi pengantar lagi tentang Data Science Roles. Walau sepertinya materi tulisan saya tentang Data Science ini melompat dari materi di blog posting yang terakhir, namun pembahasannya cukup menarik dan tidak terlalu teknis. Terlebih bila ada yang ingin mengetahui gambaran profesi yang bisa dijalani kelak saat ingin memulai belajar Data Science.

Berikut beberapa profesi yang ada di dunia Data Science saat ini. Mohon maaf apabila ada yang kurang tepat dalam penerjemahan atau penyerapan istilah bahasa asingnya ya, beberapa malah saya tidak terjemahkan dan biarkan dalam istilah aslinya. Semoga bisa dipahami.

  1. Data Scientist

Aktifitas:

  • Menyiapkan dan ‘membersihkan’ data.
  • Evaluasi model statistik.
  • Membangun model Machine Learning-nya.

Tools yang digunakan:

  • R
  • Python
  • Matlab
  • Stata
  • SQL
  • Spark

Skil yang diperlukan:

  • Teori dan metode statistika.
  • Sistem Database.
  • Programming.

2. Data Engineer

Aktifitas:

  • Integrasi data
  • Product Development (Dashboard, API)
  • Scalability and Automation.

Tools yang digunakan:

  • Sistem database: SQL, NoSQL.
  • Python, Node.
  • Google Cloud Platform, AWS.
  • Distributed System.

Skil yang diperlukan:

  • Programming.
  • Database system & modeling.
  • IT infrastructure and Cloud Environment.

3. Business Analyst

Aktifitas:

  • Menganalisa dan merumuskan masalah.
  • Eksplorasi data.
  • Mempresentasikan hasil analisa dengan baik.

Tools yang digunakan:

  • Dashboard
  • Visualization tools: Tableau, QlikView
  • Open Refine
  • PowerPoint and Excel

Skil yang diperlukan:

  • Business and domain knowledge.
  • Kemampuan komunikasi yang baik.
  • Database query language.

4. Domain Expert

Aktifitas:

  • Merumuskan masalah dan menerjemahkannya ke dalam data yang dapat diolah.
  • Memberikan konsultasi dan solusi untuk masalah tersebut.

Tools yang digunakan:

  • Tergantung bidangnya masing-masing.

Skill yang diperlukan:

  • Pengetahuan yang baik dalam bidang tersebut beserta permasalahan bisnisnya.
  • Kemampuan komunikasi yang baik.

5. Profesi Lainnya

  • Database admin: query/menyiakan data untuk dianalisa.
  • Data Architect: Design Information Architect.
  • Ahli statistik.
  • Pengembang aplikasi.

Lalu, seperti apa profesi Data Science tersebut apabila diterapkan dalam industri Telekomunikasi? Opini saya mengenai hal ini akan dibahas di tulisan berikutnya. Ciao!

Celoteh De Pepiw

Pada akhirnya saya merasa harus mencatat ini semua, segala kata yang terucap dari mulut De Pepiw sekarang mulai tersusun menjadi kalimat-kalimat pendek yang in purpose, walau mungkin beberapa kata hanya bisa dimengerti oleh orang tuanya saja karena pelafalannya belum jelas. Dalam kata lain, anak ini sudah bisa diajak ngobrol, di beberapa kesempatan saya dan Amy merasa obrolan yang terjadi di antara kami terasa sungguh jenaka. Saat kami membahasnya lagi di waktu berikutnya, obrolan itu masih saja mengundang tawa atau bahkan jadi bahan diskusi yang menarik. Itulah kenapa, saya berpikir untuk mencatatnya agar tidak lupa ketika kelak ingin membahasnya kembali.

Catatan ini akan terus diperbaharui manakala ada obrolan di kemudian hari yang menarik. Semoga tidak banyak yang terlewat, karena walau saya sangat menikmati mengobrol bersama anak 2 tahun, ingatan saya toh masih saja lemah dan sering melupakan banyak hal.

Suatu sore saat sedang video call dengan Nini di Bandung.

👨🏻: lihat ini Nini punya kolam, isinya apa, Dhy? *berharap dijawab ikan, karena sedang cerita binatang.

👶🏻: aiy *air

De Pepiw gak salah sih.

Menjelang tidur, sedang belajar sebutin nama bagian tubuh. 
👨🏻: Perut mana , Dhy? 
👶🏻: ini *nunjuk perut
👩🏻: Tempat pup mana, Dhy? 
👶🏻: ini *nunjuk pantat
👨🏻: tempat pipis mana?
👶🏻: di yuay *sambil nunjuk ke luar kamar, ke arah toilet.

Ini akibat saya dan Amy masih ragu nyebutin alat kelamin yg juga tempat pipis. Early proper Sex Education , please!

Habis mandi sedang dipakein baju.
👨🏻: Hari ini kamu pakai baju gambar apa tuh, Dhy?
👶🏻: Jeyuk.

👨🏻: Bukan, itu gambar nanas.
👶🏻: Hah… hah… hah… *tangannya mengipas-ngipas seolah sedang memegang benda panas.

Setelah ini kami pergi ke dapur untuk memperlihatkan perbedaan panas (diwakili) kompor, dan nanas (diwakili gambar di bajunya).

Saya sedang iseng-iseng nyanyi huruf hijaiyah, tiba-tiba de pepiw keingetan dan ambil buku iqro dari rak bukunya. Terus minta saya bacain bareng.
👨🏻: Yaudah ikutin ya… Ba Bi Bu
👶🏻: Bi Ba Bu, Ayah. *urutannya masih kebalik-balik :))

👨🏻: Ta Ti Tu
👶🏻: Ti Ta Ta, Ayah.
👨🏻: Ja Ji Ju *yg Tsa saya lewati karena masih susah kan ia ucapkan :))
👶🏻: Ja Ja Ju, Ayah.
👨🏻: Ha Hi Hu
👶🏻: Hu Ha Ha. *dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan “Huhu Haha, Huhu Hahasambil berdiri dan menirukan gerakan seekor monyet.

Suara monyet emang sering saya tirukan kalau lagi ada boneka atau gambar monyet di bukunya, karena itu lah mungkin jadi berbekas di ingatannya. :))

***

Insya Allah catatan ini akan terus diperbaharui. Ciao!

Bermain adalah Merawat (Bag.2)

Bagian pertama dari topik ini bisa dibaca di sini.

Semasa pandemi ini, kami sudah hampir 2 bulan tidak keluar rumah. Semua aktifitas depepiw dilakukan di dalam rumah, termasuk bermain. Maka sungguhlah kreatifitas orang tua dalam menghadirkan aktifitas untuk anak sangat diuji, terutama apabila tidak mau anaknya hanya menghabiskan waktu dengan screening time.

Video bermain yang kami rekam di bawah ini sebenarnya kami lakukan sebelum masa pandemi terjadi, namun belum sempat diedit. Maka, saya edit beberapa permainan yang kami lakukan sebelum masa pandemi terlebih dahulu, lumayan ada beberapa stok. Harapannya bisa memanfaatkan waktu untuk diedit semua videonya dan bisa menjadi sarana berbagi ide untuk para orang tua yang menghabiskan waktu bermain di rumah bersama anaknya, terutama di usia toddler.

Permainan Memetik Bola ini sendiri terinspirasi dari beberapa akun ibu-ibu di instagram yang melakukan kegiatan serupa. Alatnya sederhana dan sepertinya mudah didapat. Berbekal lakban dan bola platik kecil warna-warni, kita bisa memberikan fasilitas bermain kepada anak untuk dia bergembira. Permainan ini juga sekaligus memberi stimulus pada kemampuan kognitif anak dalam membedakan warna, kekuatan otot kakinya saat harus menjinjit, dan konsentrasi dalam menyelesaikan masalah.

Sangat senang apabila ada pembaca yang juga mencoba hal ini di rumah, juga memberi ide permainan lain untuk kita lakukan bersama. Dengan begitu, setidaknya kita sudah berupaya untuk merawat energi yang baik kepada anak lewat media bemain.

//www.instagram.com/embed.js

The Tour of Broken Heart

Saya pikir hanya di waktu kuliah saja saya harus menemani seorang kawan yang patah hati, ternyata setelah lama masuk dunia kerja pun saya harus rela menjadi orang yang menyaksikan kawan semasa di kampus menangis saking hatinya raheut sampai dia ingin berpergian jauh dan minta ditemani.

Di masa kuliah, saya menjadi saksi seorang kawan menangis di laboratorium yang angker malam-malam, saya tidak ingin menyebut nama kawan itu adalah Dea Alfayoga, tapi toh banyak orang sudah kadung tahu juga. Sementara 4 tahun pasca lulus kuliah, ada 3 orang kawan kampus yang menghubungi dan mengajak saya “pergi berpetualang untuk melupakan rasa sakit”. Ketiga kawan tersebut datang dengan latar belakang masalah yang berbeda, namun memilih problem solving yang sama.

Bukti sahih menangisnya Dea Alfayoga diiringi lagu Let You Go Away dari Broken Rose

Ibnu Toni, kawan yang sudah makmur dan bekerja sebagai kepala stasiun pemancar di salah satu perusahaan TV Swasta datang dan berujar “urang sigana obesitas euy, kudu loba bergerak meh sehat deui, ulin yuk ah ka Belitung!”.

Hendra Godeg, yang saat itu sedang galau-galaunya karena ingin segera menikah namun terganjal suatu hal yang sayangnya tidak bisa dituliskan di sini, memohon kepada saya “ Urang hayang pisan kawin tapi teu kasalurkeun. Hayu lah urang ulin we nu jauh, refreshing, mumet kieu pikiran urang lamun cicing di Bandung atau Jakarta mah.”

Freddy Roy, datang dengan masalah yang sedikit berbeda. Ia mengeluhkan kawan-kawannya, yang mana itu adalah kami sendiri, yang terlalu sering mem-bully dirinya yang belum disunat walau sudah dewasa. “Jangan budayakan perundungan!” ujarnya kesal. Saya datang kepadanya lalu meminta maaf sambil berujar “Roy, Howard Wolowitz pun sering diejek karena jadi satu-satunya orang yang disunat di grupnya, tapi toh dia tetap berkawan baik dengan Raj, Sheldon, dan Leonard sampai tamatnya itu serial The Big Bang Theory”. Roy tersenyum lalu berkata dengan semangat “kalau begitu aku ikut kalian ke Belitung ya!”. Maka, di pertengahan tahun 2016, berangkatlah kami berempat menuju petualangan bertajuk “The Tour of Broken Heart” di Pulau Belitung.

Di Pulau Laskar Pelangi tersebut, kami menginap di sebuah ruko kawasan pecinan di Tanjung Pandan yang menyewakan kamar kecil bersekat dinding triplek. Walau begitu, pelayanannya cukup baik, tiap pagi kami disuguhi minuman hangat, dan beberapa kudapan yang berganti menu tiap harinya. Terkadang pisang goreng, di hari berikutnya ada telur rebus dan sejenis lontong. Di penginapan itu juga kami menyewa dua motor yang kami gunakan sebagai alat transportasi utama.

Karena penerbangan Freddy Roy tertunda 1 hari, maka di hari pertama ini kami masih jalan bertiga. Hal pertama yang kami jajal adalah makanan yang terkenal di Tanjung Pandan, Mie Atep beserta Jeruk Kunci nya yang sangat segar di tengah cuaca Belitung yang terik. Kami lahap memakannya sampai-sampai lupa bahwa salah satu tujuan kami datang ke sini adalah agar Ibnu Toni sejenak melupakan problema berat badannya. Walau hati sedih, lidah dan perut Ibnu senang.

Di malam harinya, kami pergi menikmati suasana sambil jajan di warkop Kong Djie, sebuah kedai kopi terkenal yang sudah berjualan sejak tahun 1943. Kebetulan saat itu kami bertemu dengan Pak Ismen, generasi kedua pemilik Warkop Kong Djie. Dan malam pun kami habiskan dengan mengobrol bersama beliau. Segala hal dibicarakan dari mulai sejarah warkop yang didirikan oleh orang tuanya, tentang arti kopi yang menurut Pak Ismen hanyalah sugesti, tentang kisah ibunya yang sedang menyeduh kopi lalu dipotret oleh wartawan asal Hong Kong dan hasil fotonya dikirimkan bertahun-tahun kemudian, sampai ketika berkisah mengenai percintaan kulihat dari sudut mata Hendra Godeg tiba-tiba muncul bulir-bulir air mata. Pak Ismen segera menawarinya segelas kopi kepadanya lalu malam kembali hadir tanpa kesedihan.

Bersama Pak Ismen, pemilik warkop Kong Djie

Esoknya kami pergi ke bandara untuk menjemput Freddy Roy. Karena dia sering linglung dan ini merupakan pengalaman pertamanya menggunakan pesawat terbang, maka kami berinisiatif untuk membuat spanduk besar seperti yang banyak orang lakukan saat menjemput di area kedatangan penumpang.

Tanpa membiarkan Freddy Roy beristirahat, kami langsung mengajaknya untuk snorkeling sekaligus memanjat mercusuar di Pulau Lengkuas. Walau begitu, dia tidak ingin terlihat capek karena kalau dia mengeluh, kami akan menjawabnya dengan “fisikmu lemah karena belum disunat Roy, mungkin bakteri di kulup itu menggerogoti imun tubuhmu.” Maka hari itu pun kami bergembira menikmati pesona alam Belitung dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.

Saat petang tiba, kami memutuskan untuk menyantap hidangan laut sambil menikmati matahari terbenam. Mungkin karena didukung oleh suasana sepi yang syahdu, satu per satu dari kawanku mulai teringat kembali pada masalah hidupnya, air mata pun terjun menggurat di kedua pipi meraka masing-masing. Saya yang tidak tega hanya bisa mengingatkan kepada mereka bahwa apa pun masalah yang dihadapi dalam hidup, jangan sampai berpaling dari agama dan lupa memohon petunjuk kepada Allah. “Yuk lebih baik kita nikmati saja suasana yang indah ini, karunia dari Tuhan yang sangat indah” ujar saya bersamaan dengan terbenamnya matahari di ufuk barat. Suka cita pun kembali memenuhi wajah kawan-kawanku ini.

Kuatkan hatimu kawan-kawan, dan tetap riang gembira.

Esoknya perjalanan kami lebih menantang. Kami memacu motor menuju wilayah Belitung Timur dengan harus melewati hutan-hutan dan perkebunan selama dua jam lebih. Jalannya sih sudah dihotmik dengan mulus, namun begitu sepi dan kadang kami khawatir bakalan ada hewan buas yang melintas. Walaupun pada akhirnya kami sampai dengan selamat tapi di tengah jalan saya sempat disengat lebah. Kami berhenti sejenak untuk mencabut sengat yang masih menancap, Freddy Roy menyuruh saya untuk menjilat lukanya dan saya lakukan walau entah itu ada gunanya atau tidak. Belakangan saya tahu bahwa itu cuma akal-akalan si Freddy aja mempermainkan saya yang sedang kesakitan. “Sesekali aku dong yang mengisengi kalian” begitu kira-kira arti senyumnya yang menyeringai.

Di Belitung Timur, pertama kami mapmpir ke Manggar untuk mengunjungi Museum Andrea Hirata yang ternyata tutup karena sedang renovasi. Saya, Hendra, dan Ibnu menyempatkan diri untuk shalat jum’at di mesjid sebrang museum itu. Sementara Freddy Roy, yang seorang kristiani dengan iman yang insyaallah tebal, menunggu sambil menjaga barang bawaan kami di luar. Sikap toleransi dari Freddy yang luar biasa ini sudah sering ia lakukan semenjak di kampus.

Selesai Jumatan kami berkunjung ke Kampoeng Ahok yang tidak berada jauh dari Museum Kata Andrea Hirata. Khabarnya sekarang tempat wisata tersebut berubah nama menjadi Kampoeng Fifi yang diambil dari nama adik Pak Ahok yang juga pengelola tempat tersebut.

Saat hendak melanjutkan perjalanan ke daerah Gantong, tiba-tiba hujan turun cukup lebat. Kami yang tidak membawa bekal jas hujan terpaksa harus berteduh di sebuah warung sambil menunggu hujan reda. Karena gak enak kalau hanya menunggu saja, kami akhirnya memesan air minum dan pisang goreng walau si Freddy Roy tak mau mengeluarkan uang sepeser pun. Medit anjir ih!

Setelah lama menunggu, hujan tak kunjung berhenti walau sudah sedikit mereda, maka kami putuskan saja untuk menerobosnya guna melanjutkan perjalanan. Entah karena banyak pikiran atau karena hatinya yang kadung sakit, saat hendak berangkat, Ibnu yang membawa motor lupa membawa Freddy Roy yang merupakan teman boncengnya. Si Freddy pun hanya terpelongo di pinggir jalan tanpa berusaha mengejar atau memanggil. Saya dan Hendra yang masih bersiap kaget lalu berusaha mengejar si Ibnu. Sampai akhirnya setelah melewati satu perempatan dan satu belokan kami berhasil mengejarnya dan menyuruh dia putar balik untuk menjemput Freddy Roy.

“Yakin kuat bawa motornya, Nu? Kamu kaya yang ngahuleng tarik gitu euy” tanya saya.

“Kalem, bisa, tadi mah gak kedengeran si Roy udah naik.” alibi Ibnu.

Sesampainya di Gantong, hujan sudah berhenti total namun kami tetap kedinginan pasca menerobos hujan di Manggar. Untuk menghangatkan badan, kami mampir ke salah satu kedai kopi di wilayah yang dijuluki Negeri 1001 Kopi itu. Kami memilih Warkop Amy di antara banyaknya tempat ngopi yang lain karena di sana terlihat lebih sepi. Akhirnya, secangkir kopi dan semangkuk Mie Sedaap mampu menghangatkan badan kami. Sungguh sebuah kenikmatan.

Menjelang maghrib, kami kembali ke Tanjung Pandan melewati jalanan yang sepi dan namun kali ini lewati dengan lancar dan tanpa rasa khawatir. Mungkin karena mood kami sedang baik pasca minum kopi enak. Sesampainya di Tanjung Pandan, kami mampir kembali ke Warkop Kong Djie, sekadar untuk pamit ke Pak Ismen dan membeli oleh-oleh karena besok pagi kami akan pulang dengan pesawat paling awal menuju Jakarta.

Saat Pak Ismen mengetahui rencana besok kami ke bandara dengan memesan jasa transportasi online, beliau bersikukuh menawarkan diri untuk mengantar kami menggunakan mobil pribadinya. “Lama kalau harus menunggu online, jalan ke bandara lumayan jauh, biar saya yang antar kalian pagi-pagi, saya jemput ke penginapan, jangan kalian tolak” begitu kira-kira perkataan dari Pak Ismen yang pada akhirnya tidak bisa kami tolak.

Besok pagi-pagi sekali benar saja Pak Ismen sudah menelepon dan menunggu di depan penginapan. Kami bergegas turun dan menyapanya. Jam penerbangan sudah dekat, maka Pak Ismen menyuruh kami buru-buru. Tapi di tengah jalan menuju bandara, beliau malah membelokan mobilnya ke jalan lain, dia berputar dulu untuk menunjukan suasana kota Tanjung Pandan. “Ini masjid tertua di Belitung. Hahaha, jangan khawatir, saya bisa mengejar jadwal pesawatnya kok” ujar Pak Ismen yang tampaknya melihat raut wajah kami yang khawatir. Sejurus kemudian, Ia menancap pedal gasnya untuk mengebut menuju bandara. Dan beliau menepati janjinya, kami tiba tepat waktu. Kami berpamitan dengannya dan mengucapkan banyak terima kasih.

Bersama Pak Ismen Kong Djie yang “memaksa” mengantar ke bandara.

Di pesawat, saya berkata kepada kawan-kawan bahwa kita harus mensyukuri perjalanan yang menyenangkan ini, apalagi pertemuan dengan orang baik macam Pak Ismen. Dengan banyak bersyukur, pikiran dan hati kita menjadi lebih tenang sehingga masalah hidup apapun bisa dihadapi dengan baik. Mudah-mudahan problematika yang melanda kalian bisa segera teratasi juga, dan tajuk perjalanan ini bisa kita ganti menjadi “The Tour of Happiness”.

***

Post Scriptum:
Setahun sejak pertemuan dengan Pak Ismen, saya dan kawan-kawan berkumpul kembali di Kedai Kopi Kong Djie cabang Antapani Bandung yang baru saja dibuka. Itu memang salah satu rencana pembukaan cabang pertama di luar Belitung yang Pak Ismen sempat ceritakan kepada kami di sana. Kami sempat mengirimkan khabar dan foto kepada beliau. Lalu sejak saat itu muncul pula cabang-cabang kopi Kong Djie di berbagai daerah termasuk di Depok. Saya mampir di salah satu kedai kopi Kong Djie di Depok setahun kemudian, dan mengabarkan lagi pada Pak Ismen, namun kali ini nomornya sudah tidak aktif. Dan saya belum bisa menghubunginya lagi sampai sekarang.

Semoga di kesempatan berikutnya kami bisa bersilaturahim lagi dengan beliau. Terima kasih sekali lagi, Pak Ismen.

Persiapan Belajar Python untuk Data Science

Tulisan sebelumnya dengan topik terkait bisa dibaca di sini.

Kelas Data Science yang saya ikuti dimulai dengan pengenalan terhadap Bahasa Pemrograman Python. Kenapa yang dipilih adalah Python? Berdasarkan penjelasan dari Pak Faisal Wirakusuma, pengajar saya di kelas, saat ini Python merupakan Bahasa Pemrograman yang paling popular dan sering digunakan di Data Science, sehingga demand untuknya juga tinggi. Alasan tersebut muncul karena Python memiliki learning curve yang lebih pendek dan sintaksinya sederhana sehingga mudah untuk dipelajari. Python juga memiliki skalabilitas yang lebih besar bila dibandingkan dengan Bahasa pemrograman R. Pilihan library yang bisa digunakan untuk data analisis di Python sangat banyak disokong oleh banyaknya volunteer di Python Community yang berimplikasi pada library-nya yang semakin kaya. Selain itu, yang paling saya senangi secara pribadi, Python hadir dengan banyak pilihan packages untuk visualisasi data yang ciamik.

Oke lanjut dengan bagaimana persiapan kita untuk belajar Bahasa Pemrograman Python. Langkah pertama adalah menyiapkan setup di perangkat komputer kita masing-masing. Pengajar saya menyarankan Anaconda sebagai toolkit belajar karena navigator tersebut menghadirkan beberapa environment yang interaktif dan memudahkan proses belajar ke depannya. Maka mari kita install Anaconda, kalian bisa unduh di situs resminya ini.

Setelah kalian selesai unduh, ikuti langkah instalasinya di dokumen ini ya. Bila sudah selesai maka Anaconda Navigator sudah siap dijalankan seperti pada tampilan di bawah ini.

Tampilan awal Anaconda Navigator

Ada beberapa aplikasi yang tersedia di sana, seperti Jupyter Notebook yang popular dan banyak digunakan untuk Data Analysis. Namun, untuk berkenalan dengan Python, kami memilih menggunakan Spyder karena tampilannya yang lebih interaktif dan memudahkan. Saat kita launch Spyder, maka akan muncul tampilan seperti di bawah ini. Dan kita sudah bisa memulai menulis kode pertama kita dengan Python.

Tampilan awal Spyder

Begitulah persiapan saya di awal mula untuk belajar Python. Tentunya ada banyak gaya persiapan yang beda dan lain dari apa yang saya jelasin di atas dengan tujuan yang sama. Sampai jumpa di pembahasan berikutnya, semoga saya bisa istiqomah menulisnya juga. Ciao!

Risau di Perbatasan

Beberapa hari lalu, di linimasa Twitter melintas cuitan yang cukup menarik tentang suasana wilayah perbatasan negara Kamboja dan Thailand di border Poipet – Aranyaprathet. Bahwa dikatakan di sana terkenal dengan kemelaratan, penipuan, dan hal-hal buruk mengingatkan saya pada pengalaman melintasi border tersebut di bulan Juli tahun 2017. Kesan yang saya dapatkan tidak jauh berbeda dari cuitan tersebut.

Pengalaman pertama melintasi wilayah perbatasan dua negara terjadi beberapa hari sebelumnya ketika saya pergi naik bus dari Ho Chi Minh, Vietnam menuju Phnom Penh, Kamboja. Proses melintas border yang berada di wilayah Moc Bai – Bavet tersebut berjalan dengan lancar dan nyaman. Kami turun dari bus saat masih di wilayah Moc Bai, lalu berjalan memasuki gedung imigrasi pemerintah Vietnam, suasananya sepi dan jauh dari keramaian. Selain rombongan bis kami, hanya ada beberapa antrian truk logistik yang hendak melintas. Setelah diperiksa paspor di checkpoint Moc Bai, kami bisa langsung masuk bis yang sudah menunggu di luar gedung untuk lanjut ke checkpoint Bavet. Saya sempat foto-foto dulu sembari menunggu rombongan bis lengkap. Di Bavet, selain dekorasi pada gedungnya yang penuh ornamen khas Kamboja, tidak ada perbedaan kondisi pada proses pemeriksaan. Semuanya berjalan nyaman dan santai sampai kami selesai kembali ke Bus dan melanjutkan perjalanan. Pengalaman tersebutlah yang bisa membuat saya menasbihkan bahwa melintasi border Kamboja – Thailand cukup jauh beda kondisinya.

Crossing border Kamboja-Thailand, suasananya lebih mirip di pasar, alih-alih di kantor imigrasi. Kami turun dari bus jurusan Siem Reap – Bangkok di checkpoint Poipet, lalu masuk ke sebuah bangunan yang serasa lebih mirip posko keamanan, di dalam suasananya begitu ramai dan terjadi banyak antrian. Saya yang pergi berdua bersama Amy memutuskan untuk mengantri di baris berbeda, biar sama cepatnya, sehingga bisa keluar bersamaan. Kami memutuskan itu mengingat di luar kantor sudah banyak orang berkerumun yang selalu menghampiri orang yang baru beres proses imigrasi, terutama pada turis asing. Kuat dugaan mereka adalah calo yang menawarkan jasa transportasi dan guide.

Ternyata antrian Amy beres lebih cepat sehingga dia selesai terlebih dahulu, sementara di antrian saya agak lama disebabkan ada pasangan turis hispanik yang sepertinya kurang teliti. Mereka belum melengkapi formulir saat sampai di konter petugas imigrasi. Memang sih, kurang begitu ada panduan yang jelas dan personel petugas yang mengarahkan sepertinya kewalahan dengan banyaknya antrian. Untungnya saya dan Amy melihat orang sebelum kami yang melengkapi dulu formulir sebelum mengantri, kalau tidak, malas sekali saya menghadapi dampratan dari petugas imigrasi yang menyuruh harus mengulang kembali antiran yang panjang.

Setelah selesai pengecekan, saya bergegas keluar kantor dan mencari Amy, berharap tidak ada calo yang mengerumuninya. Dan saat kutemui ternyata dia sedang menunggu sendirian.

“Gak ada yang nyamperin?” tanyaku.

“Aku ga ngomong sama sekali pas ada calo yang nanya-nanya. Akhirnya mereka pergi sendiri.” Beruntunglah dia tidak seperti saya, yang kadang malah suka kikuk kalau diajak ngobrol sama orang asing.

Kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju checkpoint Aranyaprathet karena bis tidak bisa menunggu di sana. Jaraknya cukup jauh dan kami harus melewati jalanan berdebu dengan bedeng seng di beberapa titik yang sedang direnovasi. Suasananya benar-benar seperti pasar karena banyak penduduk lokal yang berjualan. Perbatasannya ditandai dengan sebuah jembatan yang dinamai “Friendship Bridge” dengan bendera kedua negara banyak menghiasinya. Tidak seperti Namanya, nyatanya kondisi sungai kecil yang dilintasi jembatan ini sangatlah tidak bersahabat. Banyak sampah yang tersangkut pada bebatuan dan air yang mengalir tampak tidak lancar.

Saya sama sekali tidak berani mengeluarkan handphone atau kamera untuk memotret, hanya fokus untuk berjalan sampai tujuan dengan aman dan tanpa mencolok perhatian karena trauma atas kejadian scamming yang menimpa kami di Ho Chi Minh beberapa hari sebelumnya. Kami kehilangan beberapa dollar yang cukup untuk ongkos tiket bis, hal yang membuat kesal hingga hari ini. Biarlah kali ini saya mengingat pengalaman dengan cukup mengenangnya saja.

Sesampainya di gedung checkpoint Aranyaprathet, kami bersyukur bahwa kali ini bangunannya cukup bagus dan nyaman. Panduan mengisi formulir tertera cukup jelas dan ruangan tampak lebih bersih dibanding di Poipet. Masalahnya, antrian tetaplah panjang dan bahkan total waktu kami mengantri di sana lebih lama dibanding di Poipet. ini merupakan pengalaman antrian imigrasi terlama dan penuh kerisauan yang pernah saya alami.

Kami lega pada akhirnya telah melewati proses imigrasi di perbatasan Kamboja – Thailand tersebut, lalu bergegas menaiki bis untuk melanjutkan perjalanan menuju Bangkok. Kalau dipikir-pikir sekarang, pengalaman di atas tuh seru dan bersyukur pernah mengalaminya. Namun bila ditanya pakah tertarik untuk merasakannya kembali? Dengan kondisi sekarang yang kalua travelling harus bawa seorang toddler beserta barang bawaannya yang banyak, saya memilih untuk jadi Crazy Rich Asian yang berpergian dengan pesawat jet pribadi saja.

Memulai Belajar Data Science

Dalam pekerjaan sebelumnya, saya cukup banyak berkutat dalam pengolahan statistik performa jaringan telekomunikasi sebagai bagian dari proses pemeliharaan dan perencanaan infrastrukturnya. Di lain kesempatan, saya juga sempat terlibat dalam pembuatan infografis tentang klub sepakbola Persib Bandung bersama stadionsiliwangi.com. Dari sana saya menemukan sebuah benang merah bahwa saya tertarik pada visualisasi data, walau masih dalam skala data yang terbatas. Setelah mengenal Big Data, saya semakin tertarik dengan subjek Data Visualization, yang akhirnya membawa saya pada dunia Data Science.

Pada dasarnya, saya ingin meningkatkan kemampuan saya dalam pekerjaan sehari-hari ke level berikutnya. Alih-alih ‘hanya’ mengelola data dan memvisualisasikan lalu menjadikannya sebuah laporan mingguan, saya berhasrat untuk mengelola data yang lebih luas namun menghasilkan output yang lebih signifikan. Saya membayangkan bahwa diri saya harus mampu mengelola berbagai macam data untuk menjadikannya sebuah insight, data product, atau bahkan product recommendation bagi perusahaan. Konsep tersebut saya temukan di Data Science.

Saat berencana mengikuti kelas Data Science, pilihan saya merujuk pada dua institusi: Purwadhika School dan Hacktiv8. Namun setelah menimbang jadwal kelas yang tersedia, saya akhirnya memlih Purwadhika School dengan program kelas After Hournya. Bagi yang tertarik untuk mendapat informasi lebih lengkapnya, kalian bisa lihat di situs resminya ini.

Saya memilih kelas After Hour yang berdurasi 3 jam per pertemuan, dua kali dalam seminggu di malam hari , karena berencana untuk membantu projek istri di rumah dengan toko online-nya. Juga karena lumayan memiliki passion dalam mengurus anak dan rumah, sehingga jadwal kelas sebisa mungkin memilih yang tidak akan bentrok dengan hal itu.

Kelas Data Science di Purwadhika sendiri terdiri dari 3 program silabus dengan Python sebagai pondasinya. Pertama, modul Pemrograman Python. Kedua, Python untuk Data Analysis, dan terakhir adalah Python untuk Machine Learning. Total semuanya terdiri dari 46 kali pertemuan. Oh iya, saya memilih menghadiri kelas di kampus Jakarta, tepatnya di Gedung MSIG Sinarmas, alih-alih di kampus BSD. Keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan faktor transportasi. Untuk mencapai kampus Purwadhika Jakarta, dari rumah saya cukup menggunakan KRL dengan hanya 1 kali transit untuk menggantinya dengan MRT. Gedung kuliahnya tepat berada di depan stasiun MRT Setiabudi Astra. Nyaman lah pokoknya mah kalau saya pergi kuliah tuh, berasa berpergian di Singapura, aslina.

Sampai saat ini, modul pertama tentang pemrograman dengan Python telah selesai kami lahap dalam 10 pertemuan. Pengajarnya adalah Pak Faisal Wirakusuma, seorang praktisi Data Science lulusan University of Manchester. Karena berasal dari latar belakang praktisi di industri, kelas yang diampu beliau mampu menghadirkan case study yang relevan. Bekal yang baik untuk bisa melanjutkan materi di modul Data Analysis dan Machine Learning. Cerita tentang pembelajaran di modul pertama ini akan saya bahas lebih lengkap di tulisan berbeda.

Pak Faisal (ketiga dari kiri atas) bersama murid-muridnya di kelas Data Science & Machine Learning

Begitulah cerita awal mula saya tertarik untuk memulai belajar Data Science, semoga proses belajarnya bisa tuntas dengan baik sampai akhir, dan semoga bisa istiqomah menuliskan pengalaman belajarnya di blog ini. Ciao!

Kalimera, Athena!

Langit sudah tua kala kami tiba di kota Athena hari itu, kami bergegas pergi ke penginapan. “Nanti sebelum makan malam, saya antar kalian ke tempat beli oleh-oleh sebentar ya. Jadwal kita padat jadi kita sempat-sempatkan saja ya?” ujar travel buddy yang menemani perjalanan kami.

Van yang kami tumpangi melaju tergesa-gesa, membelah kota Athena yang, di luar bayangan saya, terasa sepi. Apakah karena ini akhir pekan? Sehingga kota tak diriuhi pekerja harian yang biasa hadir di kota-kota besar? Ataukah ada hubungannya dengan krisis moneter yang menimpa Yunani? Entahlah, bagiku kota yang memiliki sejarah peradaban panjang ini seperti wajah orang dingin tak banyak bicara yang tergambarkan oleh deretan toko yang sedang tutup, jalur trem yang sepi, dan bekas reruntuhan kota tua yang semakin terasa muram saat langit memberi efek sephia sore itu.

Athena dan langit sorenya.

Kami tiba di penginapan sesaat sebelum gelap, tidak lama kemudian kami bergegas kembali untuk menghadiri acara makan malam. “Kita mampir dulu di Plaka ya? Silakan bagi yang hendak membeli buah tangan” ujar sang travel buddy.

Plaka malam itu berupa jalan kecil memanjang dari batuan andesit yang diapit oleh bangunan-bangunan tua dengan balkon yang khas. Berada di dekat bukit kota tua Acropolis, jalanan ini merupakan jantung keramaian turis yang berlibur ke Athena, namun karena sedang low season, malam itu jalanan terasa relatif sepi bagi saya.

Karena tidak punya banyak waktu saya hanya jalan-jalan saja menikmati aneka barang khas buah tangan yang dijajakan oleh toko-toko di sepanjang jalan. Kartu pos, bola kristal, magnet kulkas, patung, hingga kaos-kaos bergambarkan landmark kota dijajakan dalam siraman cahaya lampu yang mengguntai cantik di atas balkon-balkon rumah. Tidak bisa tidak, saya mulai merasakan kota ini menyibakkan kehangatannya dibanding sore tadi. Memberi dorongan lebih bagi saya untuk melebur.

Plaka di malam hari.

Di sebuah toko, saya menghampiri sang penjaga untuk membeli beberapa buah kartu pos, benda termurah yang bias saya dapatkan untuk menjadi kenang-kenangan. Di tengah transaksi hati tergerak untuk menanyakan arti sebuah kata yang banyak tertera pada kaos, tas, dan kartu pos yang dijajakan.

Kalimera itu artinya apa?” tanya saya.

Good day atau good morning, semacam itu” jawab sang penjaga toko.

Saya mengucapkan terima kasih lalu pergi meninggalkan Plaka untuk segera mengejar jadwal acara makan malam. Tapi pikiran tak sepenuhnya pergi dari toko dan percakapannya itu. Seperti ada yang tidak asing dengan kata “Kalimera”. Tersimpan di sudut-sudut ingatan, rasanya kata tersebut pernah sangat familiar dengan saya.

Pikiran tersebut terus menggelayut di tengah santap malam bersama rekan-rekan lainnya dan bahkan terus ada ketika saya sampai di penginapan dan hendak beristirahat. Sesaat sebelum tidur saya menyadari bahwa Kalimera dalam pikiran saya ternyata berasal dari salah satu lirik lagu Doel Sumbang yang sering diputar Bapak di rumah.

Kalimera… Kalimera…
Kalimera… Kalimera…
Ya Athena…

Si anjir! Selama ini saya pikir lirik lagunya berbunyi “Kali Merah” dan menceritakan tentang sebuah sungai alih-alih tentang kenangan berlayar dari Paris hingga ke Athena. Lalu sekelebat ingatan dari masa kecil pun tiba-tiba hadir dalam visual bayangan saya.

Di sebuah pagi yang hangat di Desa Cibeureum Kulon, Sumedang. Bapak masih menggunakan sarung dan menyetel lagu-lagu Doel Sumbang di tape-nya. Bersama kopi dan kudapan favoritnya, ulen goreng yang masih panas, dia menghabiskan pagi dengan ngadaweung di teras depan rumah. Saat lagu Kalimera Athena mencapai giliran untuk melantun memenuhi ruangan seisi rumah, saya ikut menikmati tanpa pernah sekalipun memperhatikan lirik lagunya. Sekarang, setelah saya tahu bahwa lagunya menggambarkan kisah di kota yang sedang saya pijak ini, saya merasa bahwa kota ini telah menyambut saya dari dulu lewat seorang Doel Sumbang. Saya pun bisa tidur dengan lelap malam itu.

Besoknya, kami bangun dan bergegas sedari shubuh untuk melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya. Kala van yang kami tumpangi membelah jalanan menuju bandara dan mulai meninggalkan pusat Athena, sinar matahari yang mulai meninggi menerobos masuk melewati kaca jendela dan menyirami kami, terasa hangat. Kawan-kawan yang lain memanfaatkan waktu perjalanan itu untuk melanjutkan tidur, namun saya lebih tertarik untuk menikmati apa yang ada di balik jendela. Kali ini langit Athena berwarna biru cerah, lanskap kota dengan bangunan-bangunan kunonya kini tampak menonjol tegas.

Di pikiran saya, kini Athena menjelma menjadi sesosok wajah tua yang memberi senyum hangat bijaksana, hatinya riang gembira seperti Bapak yang sedang menikmati pagi bersama kopi dan ulen goreng favoritnya, ditemani tembang-tembang Doel Sumbang kesayangan. Dan lagu itu pun terputar kembali di pikiran.

Matahari mata sapi yang tergantung di langit Yunani
Menyinari menyaksikan bersatunya dua hati
Kemarin kita masih berpeluk cium di alun-alun Paris
Pagi ini kita berdua telah tiba di pelabuhan Athena

Kita berlayar menuju Pulau Poros
Hydra hingga Egina
Burung laut yang indah cantik molek
Menggiring kita ke suasana romantis

Kalimera… Kalimera…
Kalimera… Kalimera…
Ya Athena…

Datang Dengan Senang, Pergi Dengan Bahagia

Suatu malam di tahun 2013 saya turun dari mobil elf travel XTrans jurusan Cihampelas-Blora. Di depan Wisma Bakrie, saya menurunkan koper dari bagasi mobil lalu menggeretnya sekian meter untuk menemui seorang tukang ojek yang sedang mangkal di bawah jembatan penyebrangan orang. Dengan kemampuan negosiasi yang rendah, saya menyetujui ongkos 20 ribu rupiah untuk membayar jasa abang ojek yang akan mengangkut saya beserta 1 tas ransel dan koper berukuran sedang. Semua skenario itu saya jalankan atas arahan Kang Wandi, kakak tingkat saya di kampus Polban yang malam itu hendak menampung saya di kosannya, tempat di mana saya dan abang ojek menuju. Sesampainya di lokasi, saya dihadapkan pada kebingungan karena arahan selanjutnya belum saya terima. Di depan bangunan empat lantai milik jejaring kosan Marijo itu saya termenung, lalu mencoba menghubungi Kang Wandi namun tidak ada jawaban, kabar burung beredar bahwa beliau sedang sibuk pacaran. Maka saya coba hubungi pacar beliau lewat Twitter untuk mendapat pencerahan, nahasnya tidak juga ada hasil kudapat.

Jejak twit-nya masih ada ternyata. :))

Pada Mbak penjaga kos yang baik hati saya minta diantarkan ke kamar Kang Wandi. Mbak itu kelak kuketahui bernama Mbak Nailil yang sambil jaga kos ia lanjutkan kuliah juga. Ternyata kosannya ada di lantai 4 dan dengan sisa-sisa tenaga yang ada kugotong tas dan koper menapaki tangga sempit dan lorong yang sirkulasi udaranya kurang baik sehingga hareudang gusti. Sesampainya di depan kamar Kang Wandi yang masih terkunci, saya dipanggil oleh seseorang yang tinggal di kamar sebrangnya. Lelaki berkepala plontos yang hanya mengenakan kaos singlet merk Rider itu menawarkan kamarnya untuk dijadikan tempat menunggu. Itulah kali pertama saya berkenalan dengan Kang Adi Baso, yang kemudian menjadi room mate saya dalam memulai karir di Jakarta. “Nuhun, Kang udah mau nampung. Besok saya mulai kerja di XL, deg-degan gini euy. Excited!”

Juli 2013, minggu pertama saya kerja, saya ingat selang beberapa hari dari hari pertama saya gabung di kantor XL Axiata ada seorang karyawan yang memutuskan untuk resign. Saya lupa tepatnya nama beliau, yang saya ingat adalah kata-kata perpisahannya, kurang lebih dia bilang “setelah 7 tahun bekerja di XL, akhirnya tiba saat saya harus berpisah dengan teman-teman yang menyenangkan di sini.” Kelanjutan dari pidato yang mengharu-biru itu tak saya ingat dengan jelas, saya hanya terpaku pada lamanya dia bekerja. “7 tahun? Bekerja di satu perusahaan yang sama? Anjir lama pisan” pikir saya waktu itu yang baru 9 bulan lulus dari kampus. Kok bisa-bisanya betah bekerja di tempat yang sama selama itu ya. Tak disangka, di penghujung tahun 2019 ini, 6 tahun lebih sejak hari pertama saya gabung di XL Axiata, sejak pertama kali saya mengetuk kamar kosan Marijo di Setiabudi, dan hanya kurang dari satu tahun saja selisih waktu antara lama karir saya di XL dengan lama karir Mbak yang saya anggap loyal banget, saya memutuskan untuk pensiun dari XL Axiata.

Ada banyak faktor yang membuat saya bisa bertahan cukup lama di XL, pengangkatan status menjadi karyawan permanen setelah 1.5 tahun kontrak bisa jadi adalah faktor paling kuat. Karena setelah itu, saya menjadi kadung nyaman dan sudah tak memikirkan lagi untuk berpindah tempat kerja. Faktor lainnya adalah beberapa capaian dalam hidup alhamdulillah bisa saya raih selama saya di XL, seperti bantu renovasi rumah orang tua di Bandung, bertemu pacar, menikah, lalu pergi ke Eropa secara gratis. Semuanya membuat saya nyaman sampai akhirnya terlalu nyaman dan tidak membuat diri ini tergerak lagi untuk mencapai apa-apa. Serasa tidak ada tujuan lagi. Pergi kerja mulai terasa seperti waktu-waktu yang hilang. Baru sampai kantor langsung menghitung waktu menuju jam pulang. Gairah menghilang.

Yang paling saya takutkan dari “rasa nyaman” ini adalah hilangnya keinginan untuk belajar, untuk menantang diri hingga ke batas-batas terluar kemampuan. Ngantor hanya untuk absen, serasa seperti makan gaji buta. Walau ada enaknya, tetep euy hati nurani teh rada menjerit dan integritas berasa tercoreng. Setelah perenungan lama, diskusi dengan istri, memperhitungkan segala macam resiko, akhirnya dengan tekad bulat saya memutuskan untuk pensiun dari kantor kesayangan untuk kembali berpetualang, cari ilmu, meningkatkan skill, dan kembali ke sana kelak di suatu waktu yang lebih baik. Terima kasih XL atas waktu-waktunya yang menyenangkan, I love the moment.

Perjalanan pertama saya pasca pensiun dari XL adalah kembali ke ruang belajar dengan mengambil Kuliah Singkat di Purwadhika School untuk kelas Data Science selama 6 bulan ke depan. Kampus Purwadhika Jakarta terletak di daerah Setiabudi, daerah dekat kosan saya pas awal datang ke Jakarta. What a coinsidence. Setelah 6 tahun berlalu, kini saya memulai lagi petualangan dari Setiabudi. Wish me luck!

NB: Untuk mengenang momen-momen menyenangkan di XL, tanpa malu saya hendak membagikan foto-foto di bawah ini.

Saat masih berkantor di gedung lama, Grha XL, Mega Kuningan.
Bertemu jodoh di XL.
Bersama XL dan Ericsson training di Madrid.
Bersama XL dan Ericsson training di Malaga.
Tim IBC & Power Eng formasi terakhir sebelum saya cabut.
Persiapan Farewel Party di parkiran XL Tower, diantar De Pepiw & Amy. :))
Bersama Pak Waqas Malik, salah satu atasan saya asal Pakistan.
Bersama Uda Simon, atasan terlama saya. Terima kasih bimbingannya selama ini. 🙂
Bersama Pak Pradeep Kutty. Vice President kami waktu itu.
Terima kasih kawan-kawan semua!