Peta di Kepala

Lewat tulisan di blog Mas Nuran beberapa waktu lalu, saya jadi mengenal idiom “perempuan tak tau arah, sementara lelaki tak tau di mana letak kaus kaki”. Mas Nuran tak menganggap sepenuhnya betul, walau itu terjadi pada dirinya dan sang istri. Sementara saya betul-betul tak menganggapnya demikian.

Sejak pacaran dan menghabiskan banyak waktu bersama di kota Jakarta, Amy adalah sang penunjuk arah. Dia mampu memetakan kesemerawutan jalanan ibu kota dalam kepalanya, seolah ada peta digital yg senantiasa melayang di dalam kepalanya. Ketika hendak menuju suatu tempat, dia mampu dengan cepat memutuskan akan lewat mana kita berjalan. Dia selalu tahu arah.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan saya. Awalnya karena memang tak tertarik memahami Jakarta, maka sangat jarang saya mampu menghafal arah jalan ke satu tempat yg hanya sekali atau dua kali pernah dikunjungi. Lama-lama ternyata sama juga, selama di Jakarta sering saya tak tau ada di sudut sebelah mana kota ini. Memang sayanya aja ini mah yang belegug. 😂

Sempat saya berfikir bahwa Amy memahami Jakarta karena memang dia pernah tinggal di kota ini sewaktu kecil. Tapi ternyata anggapan itu salah. Ketika bulan kemarin kami berkunjung ke Kota Ho Chi Minh, dia manpu dengan baik memetakan di mana kami berada. Padahal kunjungan di salah satu kota besar di Vietnam itu hanya sehari-semalam saja. Ada kejadian di mana ketika kami punya waktu yg sedikit untuk tiba di tempat jemputan bus, Amy mampu menemukan jalan pintas menembus taman kota dari hotel tempa kami menginap. Hal tersebut sungguh membantu efektivitas perjalanan kami.

Amy hari ini tepat berusia 26 tahun. Andai saja bisa turut membaca peta yg ada di pikirannya itu, saya ingin tahu sudah berapa KM panjangnya jalan yang dia ingat betul. Namun rasanya itu tak terlalu berguna juga buat saya.

Sekarang, saya lebih ingin mengajak Amy memperluas dimensi petanya, memperpanjang jarak tempuhnya, dan memperdalam maknanya. Dalam peta yg bermukim di kepalanya itu, ingin saya tambahkan juga titik-titik lokasi yang menyenangkan. Lokasi makan seafood yg segar, lokasi nonton film yang berkenang, lokasi beli benih tanaman untuk kebun, atau bahkan sekedar lokasi tempat minum Thai Tea yg lezat.

Perjalanannya pasti akan sangat panjang dan dinamis. Tapi saat tahu itu adalah perjalanan bersamamu, saya tak sabar menunggu.

Selamat ulang tahun sayang, berbahagialah selama-lamanya dan selama-lamanya.

11 Agustus 2017

Iklan

Cara Sedap Menyantap Nutrisi Udang di Belitung

Sebagai orang yang terlahir di bawah kaki gunung Tampomas, dari kecil lidah saya lebih familiar dengan beraneka macam olahan ikan yang berkembang biak di air tawar. Karenanya, ada kalanya saya kurang cocok dengan makanan olahan dari laut. Indra pengecap saya sering menafsirkannya sebagai makanan yang terlalu beraroma anyir. Terlebih untuk beberapa jenis hewan laut yang memiliki kulit atau cangkang keras seperti udang atau kepiting, saya cenderung menghindarinya karena riwayat alergi saya yang sering menyebabkan kulit gatal-gatal setelah menyantap bagian dari hewan laut tersebut.

Padahal, tidak jarang saya mendapatkan imbauan untuk rajin menkomsumsi olahan laut karena nilai gizinya yang tinggi. Dan yang paling vokal jelas datang dari kedua orangtua saya. Masih terngiang bagaimana Bapak saya memberi penekanan lebih kala dia mengucap kalimat “harus suka makan ini (makanan laut), biar otakmu encer!”. Pemakluman saya berikan karena memang saat itu saya berada dalam masa pertumbuhan. Walau sampai saat sudah beranjak dewasa, frekuensi saya melahap olahan laut tetap teritung jarang.

Namun semua kebiasaan itu akhirnya menemukan titik nadirnya. Tatkala melancong ke Belitung, akhirnya saya menemukan cara yang tepat untuk menyantap olahan sari laut, tanpa perlu khawatir terhadap alergi yang saya miliki. Adalah olahan udang yang disajikan dalam bentuk Mie Udang Belitung yang mengakhiri masa-masa kelam saya tidak bisa menikmati udang dengan nyaman.

Siang belum bolong betul saat saya memutuskan untuk mengisi perut di warung Mie Belitung Atep. Walau begitu cuaca panas sudah terik menyerang kulit. Hanya ada beberapa wisatawan yang berkunjung di warung yang jaraknya tak jauh dari bunderan Batu Satam ini.

screen-shot-2016-11-07-at-12-27-25-am

Mie Atep Belitung

Saya perhatikan Nyonya Atep, sang pemilik warung, kala dia mempersiapkan menu andalannya yang saya pesan. Piring-piring telah berjejer rapi sebelum pengunjung berduyun memenuhi meja-meja. Di atasnya sudah tersusun tumpukan mi kuning, potongan kentang rebus, dan juga timun dalam bentuk dadu-dadu kecil. Didampingi asistennya, Nyonya Atep kemudian menambahkan sejumput toge yang baru direndam dalam air panas. Bagian terbaik adalah yang terjadi setelahnya. Nyonya Atep menyiduk kuah rebusan udang dalam sebuah panci panas untuk kemudian dia tuangkan di atas tumpukan bahan di atas piring. Samar-samar terlihat asap yang mengepul dari piring tersebut. Menggugah selera saya yang sudah kadung tak tahan untuk segera menyantap.

Mie Udang Belitung hadir di meja saya, dan kejadian yang hadir setelah itu adalah pengalaman yang begitu menyenangkan untuk lidah saya. Rasa manis dan gurih dari kuah rebusan udang yang masih hangat luruh pelan-pelan di dalam mulut. Kuahnya sedikit kental karena dimasak dengan menambahkan sedikit tepung kanji. Lalu disusul dengan kentang rebus empuk berkualitas baik, sehingga lezat untuk dinikmati bersama kenyalnya mie kuning. DI beberapa kesempatan, ada potongan daging udang manis yang ikut terkunyah, rasanya berpadu-padan dengan toge dan timun yang segar.

img_4826

Kuah dari rebusan udang yang manis serta gurih.

Untuk saya pribadi, itulah kali pertama saya menikmati olahan laut dengan enjoy. Tidak ada ketakutan akan alergi kulit karena bagian-bagian keras di kulit udang dan sungutnya telah dihilangkan terlebih dahulu. Tidak ada pula aroma terlalu anyir sebagaimana biasanya yang saya temui pada olahan laut. Kenikmatan diakhiri dengan segelas es jeruk kunci yang cocok untuk menikmati udara panas di pulau Belitung kali itu.

Sungguh dari pengalaman menikmati Mie Udang Belitung tersebut, rasa penasaran muncul untuk bisa menjelajah rasa demi rasa dari kreativitas olahan sari laut di negri ini. Untuk Negara dengan garis pantai yang panjang dan kaya akan hewan laut yang bisa diolah, rasa-rasanya akan banyak pula menu yang cocok dilahap oleh anak gunung seperti saya.

Kreativitas dalam mengolah ini sungguh sangat membantu negri ini untuk menyediakan makanan penuh gizi dengan tersebar luas. Setidaknya untuk saya yang sebelumnya mengidap alergi pada udang, dengan kreativitas pengolah makanan, akhirnya bisa menyantap olahan udang penuh nutrisi. Maka seharusnya tidak ada lagi anak kecil yang tidak suka ikan, udang, atau cumi padahal kandungan gizinya sangat membantu tumbuh kembang mereka.

Untuk perihal udang ini, yang mana menjadi bahan utama pada Mie Belitung, kandungan Nutrisinya sangat kaya sehingga punya manfaatnya yang banyak bagi kesehatan. Untuk lebih lengkapnya saya sajikan data yang saya himpun mengenai kandungan nutrisi Udang tersebut, dalam infografik berikut ini.

nutrisi-udang2

Infografik Kandungan Nutrisi Udang dan Manfaatnya

Sudah barang tentu dengan olahan hasil laut yang lain, sumber nutrisi yang dikandungnya pastilah kaya dan banyak manfaatnya bagi tubuh kita. Tidak sabar saya untuk bisa mendapatkan kesempatan merasakan olahan laut di daerah lainnya. Untuk saat ini, terima kasih Belitung sudah mengenalkan lidah saya pada bentuk udang yang bisa saya nikmati. Sebagai tanda terima kasih saya sertakan infograpik resep Mie Udang Belitung yang saya sadur dari buku 100 Mak Nyus Jakarta karya Pak Bondan Winarno.

resepmibelitung2

Resep Mie Udang Belitung

Reinventing Telekomengbal

IMG_7165.JPG

Foto oleh: Aryo Mahardiko

“Kamarana cenah ieu teh?”

Pertanyaan yang merebak ke udara tatkala melihat lapangan hijau itu tampak lebih lenggang dari hari-hari biasanya. Tak lebih dari hitungan jari, jumlah yang senantiasa konsisten menyambangi lapangan. Seolah menegaskan bahwa memang merekalah yang telah menjalani dunia olah bola pada level hakikat, bahkan hingga makrifat. Bahwa dengan perubahan pola hidup akibat dari bertambahnya umur tidak serta merta membuat mereka melupakan sepak bola. Mereka tidak takluk pada stereotype yang umumnya menjadi kendala. Apakah itu karena sudah beristri dan beranak maka sulit membawa badan ke lapangan, atau karena rutinitas kerjaan maka kebugaran tubuh sudah enggan diajak mengejar bola, atau keengganan yang muncul karena raga yang sudah jauh jaraknya dari tempat si kulit bundar itu bergulir.

Saat pertama kali gerakan kolektif ini terbentuk, rasa-rasanya gairah itu begitu membuncah. Semangat yang tinggi sampai bisa memperluas dimensi ruang dan waktu. Yang tadinya hanya bermain di lapang futsal beranjak ke lapangan sepak bola. Yang tadinya frekuensi bertanding tak tentu bisa menjadi rutin tiap bulan. Kita begitu bersemangat hingga berani menolak kooptasi para pengembang yang menggerus lapangan bola menjadi tumpukan beton. Tak habis akal dengan merambah lapangan milik aparat hingga lapangan artifisial yang overpriced. Selama semangat masih ada, selama itu pula bola bisa kita tendang dengan hati senang.

Kita saling memahami bahwa gelombang hati begitu fluktuatif. Kadang sumanget kadang hoream. Tapi revolusi tidak bisa kita rebut dengan cara seperti itu. Ketika menginginkan sepakbola kembali pada hakikatnya sebagai sebuah sumber kesenangan, maka kita harus konsisten untuk menjalaninya. Bukankah memang kita menginginkan kesenangan menjadi sesuatu yang bersifat selalu?

Masing-masing dari kita mungkin perlu melihat kembali ke dalam diri, tempat di mana sumber keinginan harus berasal. Di sana mungkin tersembunyi, tertumpuk oleh satu atau dua hal lain, sebuah hasrat untuk berlari menggiring bola. Di sisimu adalah teman yang senantiasa memberi operan, di depanmu adalah lawan yang walaupun kita ingin mengalahkannya, tapi tidak ingin melenyapkannya. Semua hal yang kau lewati sambil berlari menggiring bola, hingga tiba pada sebuah ujung yang berjala. Yang dengan sekuat tenaga kita coba membobolnya hingga robek, dan di sanalah kita menemukan kembali diri kita. Menemukan diri yang bersenang gembira, tertawa, dan merayakannya. Menemukan kembali Telekomengbal.

 

Hegarmanah, September 2016.

Di Balik Layar Bioskop

Sebuah Musikalisasi Puisi seadanya.

Di balik layar bioskop,

Ada sepasang mata sedang memerhatikan wajahmu.

Dan engkau, entah mengapa mengabaikannya.

Setengah dari wajahmu tersiram oleh pantulan cahaya, sisanya tenggelam dalam gelap bisikanmu.

Sepasang mata itu terus menyaksikan,
Kau menghamburkan tawa kepada lelucon tentang pengamen, juga pada puisi yang tak tertulis dalam perkamen.
Di balik layar bioskop, 
Sepasang mata bertemu dengan kekasihnya yang telah lama dia abaikan.

Keduanya tampak bosan dengan apa yang mereka perankan, atau dengan apa yang tidak mereka perankan.

Sekali itu engkau memerhatikan, dan bertanya-tanya tentang apa yang mereka lakukan.
Di balik layar bioskop,

Sepasang mata kian jemu, dilemparkannya iri pada pria disampingmu.

Di depan layar bioskop,

Seorang pria mengagumi senyumanmu.
Jakarta, 10 Mei 2016

Versi Youtube ada di sini.

Seperti Apa Sebaik-baiknya Memberi Hormat?

 

Kemudian aku teringat pada adegan itu, memang tiba-tiba saja terlintas di pikiranku. Suatu adegan saat tokoh Minke harus menghadap pada Bupati di Kota B, di mana dia harus menunduk ketika menghadapi orang yang ternyata adalah ayahnya sendiri. Sebagai seorang siswa HBS saat itu, Minke begitu merasa terhina saat harus merendahkan diri hanya untuk sekedar memberi hormat. Pram begitu sentimentil menggambarkan suasananya, maka aku tuliskan lengkap nukilan dari roman Bumi Manusia itu:

            Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku, waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk di tempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu… Sembah pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak-cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.

Aku baru menyadari bahwa ada perasaan yang begitu terhinakan saat melakukan “sungkem”, padahal kisah tersebut datang dari masa satu abad yang lalu. Perasaan Minke tersebut mungkin datang bersama kesadarannya terhadap hegemoni kaum penjajah yang selalu merasa superior terhadap bangsa pribumi. Sehingga walaupun Minke diharuskan untuk melaksanakan adat istiadatnya, dia merasa bahwa itu justru adalah gambaran dari sifat bangsanya yang inferior sehingga kungkungan penjajah bisa berlangsung hingga 3 abad lamanya.

Memang, sepertinya menunjukan sifat hormat dengan merendahkan posisi badan adalah kebiasaan suatu bangsa secara kolektif. Aku teringat pada pengalamanku sendiri dengan seorang General Manager di kantor tempatku bekerja. Dia berkebangsaan Pakistan, jauh lebih tua dari pada aku,dan telah memiliki pengalaman bekerja di berbagai tempat di belahan dunia.

Suatu waktu dia sedang berdiri mengobrol bersama rekannya di tengah lorong yang hendak kulewati. Aku harus berjalan diantara kedua orang yang lebih tua dariku tersebut untuk melewatinya.  Maka, sesuai dengan kebiasaanku, aku sedikit membungkukan badan dan memberi tanda dengan gerakan tangan kanan yang kumajukan seolah hendak membelah ruang di antara mereka. Namun saat tepat berada di tengah-tengah mereka, tangan besar juga berbulu milik orang Pakistan itu tiba-tiba meraih pundakku. Memberi gesture yang ramah seolah hendak berkata “Hey, You don’t need to do that!”.

Aku pikir, saat itu memang terjadi tubrukan budaya, aku pribadi hanya terbiasa diajarkan memberi hormat seperti itu, terlebih saat harus berjalan di depan orang yang lebih tua. Tidak ada maksud dan tidak ada rasa merendahkan diri, atau bahkan menarik perhatian sebagai seorang penjilat. Dan hal tersebut sudah sangat biasa bila dilakukan di lingkungan orang Sunda. Seperti telah menjadi konsensus umum yang dipelihara secara kolektif dengan menjadikannya aturan dalam tata karma.

Tanggapan yang berbeda yang hinggap di pikiran Pak GM aku yakini sebagai sikap yang hadir dari sifat pribadinya yang, sejauh ku kenal, tak gila hormat. Juga karena kebiasaan tersebut tak pernah dia dapati dari pengalamannya bekerja di berbagai Negara dengan kebudayaannya masing-masing.

Sebabnya, bolehlah aku menyebut bahwa dia telah menjadi seorang yang mencitrakan kebiasaan warga internasional. Di mana kebiasaan dari berbagai penjuru dunia telah berakulturasi menjadi suatu norma baru yang disepakati secara sadar maupun tidak.

Masalahnya, pertanyaan muncul pada pihakku yang mewakili kebudayaan masyarakat lokal: seperti apa sebaik-baiknya kita memberi hormat?

Cerita dari Atas Laut Banda

Adzan subuh mengalun lirih dari daratan kala kami terapung di perairan dangkal laut Banda. Risan menikmati tegukan terakhir dari gelas kopinya, sedikit memuntahkan kembali hampas yang ikut masuk ke dalam mulut. Lelaki pengelana itu menyeringai lalu bergeser ke arah buritan kapal. Meninggalkanku yang sedang tergeletak kesakitan karena terkena sengatan ikan pari di kaki.

“Boleh kubantu menyiapkan ikannya, Paman?” Risan bertanya kepada Musafri, sang pemilik kapal.

Musafri mempersilahkannya, nelayan asal Tulehu tersebut tampak belum setua umurnya. Di balik pundaknya yang kekar dan legam itu sering tertoleh wajah penuh senyum dan mata yang secemerlang air laut. Dan perangainya yang hangat, ia berikan kepada setiap orang yang ditemuinya, termasuk pada aku dan Risan. Dengan tanpa keberatan dia mempersilahkan kami yang menawarkan diri untuk ikut melaut mencari ikan bersamanya.

“Sambil menunggu kapal ferry yang hendak ke Banda, kami pikir ingin belajar melaut bersamamu,” ujarku kala merengek kepada Musafri empat hari yang lalu di Teluk Ambon.

“Naiklah, laut dan cuaca sedang bagus, akan kuantar juga kalian ke Banda,” jawabnya sambil sibuk mengangkat sauh.

Betapa senangnya kami kala itu karena selain tidak perlu menunggu kapal ferry yang jadwalnya tiba-tiba berubah, kami mendapat tumpangan itu secara gratis, oh tentunya dengan syarat. Tenaga kami diperlukan untuk menggantikan rekan Musafri yang tidak bisa ikut melaut karena mendadak terserang demam. Kupikir mengarungi Laut Banda dengan menggunakan kapal motor berukuran sedang ini sedikit gila namun entahlah, menuju Pulau Banda adalah impian kami.

Sekarang Risan sedang memotong ikan terbang hasil tangkapannya, terlihat cahaya yang berpendar di tangannya kala dia menguliti sang ikan. Partikel posfor hanyut mengambang di atas permukaan laut yang biru tua, indah dipadukan dengan gemintang yang bertebaran di langit yang masih gelap.

Ikan terbang itu rencananya akan dihadiahkan kepada Bapak Raja di pulau Banda, yang rumahnya berencana kami inapi selama berada di sana, sebagaimana yang dia katakana melalui telepon saat kami hubungi seminggu yang lalu. Beruntung kami mendapatkan kontaknya dari kenalan kami yang pernah berkunjung ke pulau penghasil rempah itu. Sebenarnya Musafri menyarankan kami untuk memberikan ikan tuna yang dia tangkap, rasa dagingnya lebih enak. Namun, Risan beranggapan bahwa pemberiannya itu akan spesial karena hasil tangkapannya sendiri.

“Sebentar lagi kita sampai, seperti yang sudah kubilang, kita akan memang sampai ke Banda,” teriak Musafri yang sekarang sibuk dengan kendali kapal.

Aku masih merasakan nyeri yang berdengung di telapak kakiku karena sedikit kesialan saat kemarin iseng menyemplung ke dalam laut. Risan sedang menyeduh kopi dengan air panas dari termos, beruntung kapal ini mempunyai mempunyai fasilitas yang terhitung lengkap untuk kapal nelayan berukuran sedang. Bahkan ada kompor gas kecil untuk memasak, mengingatkan kami pada kapal patrol polisi hutan di Krakatau.

Risan menghampiri dan menyerahkan secangkir kopi padaku. Kopi yang harum, yang kami dapat saat mengunjungi Toraja beberapa minggu yang lalu. Tempat di mana kami akhirnya menanggalkan motor tua yang selama 5 bulan terakhir menemani kami menjelajahi pulau Sumatera hingga daratan Kalimantan. Akhirnya motor itu kandas setelah mengarungi jalur Trans Sulawesi. Kami menjual motor itu kepada sebuah bengkel, uangnya lumayan untuk kami gunakan melanjutkan perjalanan dengan transportasi umum. Risan menggunakan sebagian uangnya untuk membeli 2 bungkus besar kopi Toraja. Kawanku yang satu ini memang pecandu kopi, dia beralasan itu adalah obat penawar untuknya yang sering terkena mabok saat mengarungi perjalanan laut. Dan kuperhatikan ternyata terbukti.

“Akhirnya kita sampai juga,” Risan berkata sambil mengamati kilauan cahaya yang muncul dari rumah-rumah di pesisir pantai.

“Ini kah garis finisnya?” aku bertanya.

“Perjalanan mencapai akir kala sudah menemukan pengertiannya, bukan tempatnya.”

“Apa yang akan kita lakukan selama di sana?”

“Kau belum memikirkannya selama ini?” tanya Risan sedikit heran.

“Aku hanya tertarik untuk ke sana setelah membaca buku-buku, namun belum tahu apa yang bisa kulakukan.”

“Ada banyak sejarah menarik yang terbaring di kepulauan ini, selama mempelajarinya, mungkin kita akan berbaur bersama masyarakat di sana untuk membantu sebisanya, mungkin dengan itu kita bisa menyelami lebih dalam.”

“Apa kiranya yang bisa kita bantu?” tanyaku.

“Banyak hal, akan kita lihat nanti. Pulau ini walau kecil namun kaya akan rempah, aku berpikiran untuk meracik sabun nabati dan mengajarkannya ke masyarakat.”

“Kau sarjana elektro, apa-apaan kau malah membuat sabun,” ujrku sambil tertawa.

“Tak peduli kau lulus sebagai apa, yang akan menjadikanmu berarti dan dikenang toh bukan gelarmu, tapi perbuatanmu yang berguna.”

Matahari mulai mengintip dari cakrawala di sebelah timur saat kapal kami akhirnya tertambat di pelabuhan nelayan Pulau Banda. Semburat jingga samar-samar mulai terlukis di langit dan permukaan laut. Kami meloncat menuruni kapal, dan menghirup sebuah udara yang terasa baru. Dan langkah pertama kami di Negeri Pala ini terisi oleh beribu pengharapan baik.

***

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com

Menjadi Bedug dan Kohkol

Kadang, bahkan cenderung seringkali, aku lebih ingin menjadi bedug atau kohkol di masjid. Menjadi mereka adalah suatu kehormatan, dimana aku bisa menjadi penyambung lidah sang imam masjid kepada umat. Guna mengajak mereka untuk berbondong-bondong pergi ke rumah ibadah.

Ketika aku menjadi bedug, maka suaraku berdentam deng deng, itu artinya mendheng, sedikit kuambil dari kosa kata bahasa Jawa yang berarti muat/penuh. Toh memang waktu itu kondisi masjid sudah penuh akan umat. Di lain waktu suaraku berubah menjadi tong tong, itu di saat aku menjadi kohkol, menandakan bahwa masjid sedang kosong sebagaimana dalam bahasa Jawa disebut kothong.

Mengalir di antara udara malam yang lingsir, suaraku sampai pada mimpi-mimpi indah orang-orang yang terlelap. Dari Bale Nyungcung di alun-alun Bandung mengalun hingga Andir, Tegalega, Dago, bahkan Cibarengkok yang jauh ke utara. Menyelinap pada sela-sela pintu, lubang-lubang jendela, hingga celah-celah bilik dinding rumah para umat muslimin dan muslimat di tatar Priangan. Suatu waktu terbangunkan juga olehku Pangeran Siam yang sedang menjalani masa pengasingan di Cipaganti. Dulu, memang, aku masih menjadi penanda yang baik di tengah Bandung yang masih sunyi.

Tapi tidak mudah juga menjadi bedug dan kohkol, ini bila kita di hadapkan pada setan-setan kecil di mesjid-mesjid Priangan. Selain suka ngélékéték telapak kaki sang imam saat sedang solat, mereka juga sering jahil pada bedug dan kohkol. Pernah setelah dimarahi oleh marbot karena berisik, si setan-setan kecil ini balas dendam dengan menyembunyikan panakol bedug dan kohkol. Sehingga saat masjid hendak mengumandangkan adzan, sang marbot lieur kokotéténgan mencari pemukul itu. Tentu saja bedug dan kohkol ikut kecewa karena telat memulai waktu adzan, sampai menimbulkan keriuhan pada jemaah di masjid.

Di lain waktu saat masjid sedang mengadakan likuran, seperti biasa di malam-malam terakhir bulan ramadan itu banyak yang menginap di mesjid untuk itikaf, termasuk para setan kecil itu. Kali ini tingkah mereka menjaili temannya sendiri yang tertidur. Saat terlelap dia digotong dan dipindahkan tidurnya ke dalam bedug. Sehingga saat subuh tiba dan marbot mulai memukul bedug si anak yang dijaili akan terbangun dan kaget mendapati dirinya dalam bedug. Sambil diam-diam terkekeh, setan-setan kecil itu menakuti bahwa dia telah digotong oleh jin. Duh, bedug juga yang kebawa-bawa nakalnya para ontohod itu.

Ah memang, tetap ada suka duka nya menjadi sesuatu, sekalipun itu bedug dan kohkol. Pun begitu dengan menjadi manusia, kendati tugasnya sudah pasti untuk melakukan sesuatu yang diniatkan, nyatanya kadang menemui halangan. Tapi dari semua itu, bila menjadi manusia adalah menjadi yang melakukan kerusakan di muka bumi, maka aku lebih memilih menjadi bedug dan kohkol.